Menalar Firman Tuhan : Wacana Majas dalam Al-Quran Menurut Mu'tazilah

  • Cover Menalar Firman Tuhan : Wacana Majas dalam Al-Quran Menurut Mu
  • Cover Menalar Firman Tuhan : Wacana Majas dalam Al-Quran Menurut Mu
Rp 44.500
Hemat Rp 8.900
Rp 35.600
Judul
Menalar Firman Tuhan : Wacana Majas dalam Al-Quran Menurut Mu'tazilah  
No. ISBN
9794333247
Penerbit
Tanggal terbit
2009
Jumlah Halaman
404
Berat Buku
500 gr
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
-
Kategori
Islam
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
Stok Tidak Tersedia
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya


Sebagai kitab suci yang autentik dan sempurna, wajar jika Al-Quran dianggap sakral dan harus diterima sebagai doktrin yang didekati secara dogmatis-ideologis. Namun, tentulah akan lebih memuaskan akal dan melegakan hati, jika Al-Quran didekati melalui metodologi ilmiah-rasional. Untuk itu, ayat-ayat Al-Quran--terutama menimbulkan pemahaman ambigu (mutasyabihat)--harus mendapat "sentuhan" makna esoterik (takwil). Perangkat takwil ini melahirkan beragam interpretasi tentang implementasi kajian bahasa, dan di antara fokus kajian pemikir belakangan adalah wacana majas (metafora) vis a vis hakiki (fenotatif). Di sinilah pentingnya penalaran terhadap ayat-ayat Al-Quran. Nashr Hamid Abu Zaid (I. 1943 M), pemikir kontemporer Mesir yang pada 1995 harus mengasingkan diri bersama istrinya ke Leiden menyusul pengafiran atas dirinya, sangat concern dalam bidang ini. Karyanya, Menalar Firmn Tuhan: Wacana Majas dalam Al-Quran Menurut Mu'tazilah, menawarkan suatu kajian komprehensif tentang majas dan aplikasinya dalam hermeneutika Al-Quran. Dia tidak hanya meninjau majas dari aspek kebahasaannya, tetapi secara jeli menempatkannya dalam kerangka historis pertumbuhan dan perkembangan pemikiran Mu'tazilah sesuai dengan konteks sosiologis masyarakat Islam. Korelasi antara ilmu pengetahuan dan teori-teori bahasa menurut Mu'tazilah dan pengaruhnya terhadap paradigma pemikiran mereka--baik dalam perspektif bahasa maupun teori-teori logika--menajdi pengantar dialog yang menyegarkan. Penulis, selanjutnya, menaruh perhatian tentang indikator-indikator tekstual yang berkaitan dengan perubahan teori interpretasi ayat (ilmu tafsir). Eksplorasi tentang keterkaitan antara kematangan konsepsi balaghah (kejelasan makna) dan interpretasi tekstualtias Al-Quran turut mengungkap perbedaan yang tegas antara akidah Mu'tazilah dan akidah mazhab yang lain. Namun, untuk mengetahui korelasi antara majas dan takwil dibutuhkan pembahasan khusus. Bagian akhir buku ini secara detail membahas korelasi ini dan juga korelasi antara pengetahuan ilmiah dan pemahaman agama secara seimbang. Melalui buku ini, tampaknya Abu Zaid hendak menyampikan pesan bahwa konteks sosio-politik dan historis sangat memengaruhi turunnya ayat-ayat Al-Quran. Artinya, Al-Quran dipengaruhi dan dibentuk oleh budaya Arab--satu pandangan kontroversial yang masih terus diperdebatkan.

REVIEW Menalar Firman Tuhan : Wacana Majas dalam Al-Quran Menurut Mu'tazilah

Buku Sejenis Lainnya »