Ayah... Kisah Buya Hamka BK

  • Cover Ayah... Kisah Buya Hamka BK
  • Cover Ayah... Kisah Buya Hamka BK
Rp 49.000
Hemat Rp 9.800
Rp 39.200
Judul
Ayah... Kisah Buya Hamka BK  
No. ISBN
-
Penulis
Penerbit
Tanggal terbit
Mei - 2013
Jumlah Halaman
31
Berat Buku
300 gr
Jenis Cover
SOFT COVER
Dimensi(L x P)
-
Kategori
Memoar
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya

BUYA HAMKA. Nama
besar ini bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga
sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, dan pemimpin
masyarakat. Ketokohan serta keagungan karyanya membuat banyak orang
tertarik untuk mengabadikannya.

Melalui penuturan anak kelimanya,
Irfan Hamka, Republika Penerbit ingin mengenal sosok besar Hamka, namun
dari sisi yang lebih dekat; Buya Hamka sebagai seorang ayah, suami, dan
kepala keluarga.

Buku Ayah… menyuguhkan banyak kenangan,
pengalaman, dan kisah luar biasa yang mungkin tak akan kita peroleh
selain dari orang-orang terdekatnya.  Dan, Republika Penerbit merasa
beruntung bisa "mendengarnya" langsung dari Penulis, lantas
menyampaikannya kepada pembaca. Semoga pembaca pun dapat memperoleh
manfaat dengan membacanya.

Berikut sebagian kecil nasihat dan
pengalaman yang dikenang oleh Irfan Hamka selama 33 tahun kebersamaannya
dengan Buya Hamka, sang ayah. Kisah-kisah dalam buku Ayah… akan membawa
pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka dari sisi yang berbeda.

"Ada
tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong.
Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak
ragu-ragu untuk berbohong. Jangan seperti kamu tadi.  Kedua, tidak
pelupa akan kebohongan yang diucapkannya. Ketiga, harus menyiapkan
bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran bohongnya yang
pertama. Contoh, ada seorang teman bertanya kepada temannya, 'Tadi hari
Jum'at shalat di mana?' Si teman yang ditanya sebenarnya tidak ikut
shalat berjamaah Jum'at, namun karena malu, dia berbohong, lalu
menjawab, 'Di Masjid Agung'. Si teman yang bertanya kembali bertanya,
'Di lantai mana kau shalat?' Yang ditanya kembali menjawab, 'Di lantai
bawah'. Bertambah lagi bohongnya. 'Saya juga di lantai bawah, kok.
Tidak,bertemu?' Dengan mantap yang ditanya menjawab, 'Saya di saf paling
belakang'. Coba kau hitung, Irfan! Untuk melindungi bohongnya, berapa
kali dia menambah bohong agar temannya percaya bahwa dia memang shalat
di Masjid Agung? Mengerti kau, Irfan, akan cerita Ayah ini?" –Halaman
10.


***

Atau kisah tentang perjalanan maut di Padang Pasir.

Mulanya,
gulungan angin bercampur pasir itu masih berjarak sekitar dua kilometer
di belakang kami. Umar, sopir kami, menambah kecepatan mobil dari 100,
110, lalu 120 mill per jam. Mobil terasa melayang di atas jalan raya.

Namun,
angin pasir itu lebih cepat menyusul. Badan mobil terdengar seperti
disiram oleh pasir. Suara gemuruh angin terdengar di dalam mobil kami.
Seperti ada ribuan suara siulan yang mengepung mobil kami. Ayah terus
menyebut nama Tuhan, "Allah, Allah".

Aku pun mengikuti ucapan Ayah, "Allah, Allah, Allah". –Halaman  137-138.

REVIEW Ayah... Kisah Buya Hamka BK

Buku lainnya oleh penerbit - Republika »

Buku Sejenis Lainnya »