Putroe Neng

  • Cover Putroe Neng
  • Cover Putroe Neng
Rp 59.500
Hemat Rp 8.925
Rp 50.575
Judul
Putroe Neng  
No. ISBN
9789790814066
Penulis
Penerbit
Tanggal terbit
April - 2011
Jumlah Halaman
-
Berat Buku
500 gr
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
-
Kategori
Sejarah Indonesia
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
Stok Tidak Tersedia
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya


KEKALAHAN dalam peperangan di Kuta Lingke telah mengubah sejarah hidup Putroe Neng, perempuan cantik dari Negeri Tiongkok. Dari seorang maharani yang ingin menyatukan sejumlah kerajaan di Pulau Ruja, ia malah menjadi permaisuri dalam sebuah pernikahan politis. Pendiri Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam, Sultan Meurah Johan, menjadi suami pertama Putroe Neng yang kemudian juga menjadi lelaki pertama yang meninggal di malam pertama. Tubuh Sultan Meurah Johan ditemukan membiru setelah melewati percintaan malam pertama yang selesai dalam waktu begitu cepat. Menikahi Putroe Neng yang cantik jelita merupakan sebuah kebanggaan bagi banyak lelaki bangsawan. Kebanggaan itu sering dilampiaskan dalam kalimat, "Nanti malam aku akan tidur dengan Putroe Neng." Namun, hampir tidak ada lelaki yang berhasil mengatakan, "Tadi malam aku tidur dengan Putroe Neng." Malam pertama selalu menjadi malam terakhir bagi 99 lelaki yang menjadi suami Putroe Neng.

REVIEW Putroe Neng

Oleh : H3NY, 06 Juni 2011-22:02:38

Rating
Awalnya melihat judul “Putroe Neng” langsung beranggapan bahwa ini adalah Novel dari Aceh dan ternyata anggapan itu benar. Dengan judul yang begitu provokativ Putroe Neng: Tat kala Malam pertama menjadi malam terakhir bagi 99 lelaki. Membuat saya penasaran akan hal itu.

“Putroe Neng” adalah sepenggal kisah tentang perempuan yang berasal dari Cina, bernama Nian Nio Liang Khie, dia masuk ke Aceh bersama ribuan Prajurit perempuan Cina pada masa Kerajaan Indra Purba pada tahun 1024. Kehadiran mereka di anggap remeh oleh pihak Kerajaan Indra Purba dan inilah yang membuat prajurit perempuan Cina tersebut berhasil mengalahkan Kerajaan Indra Purba di dalam peperangan dan mengawali sejarah berdirinya Kerajaan Seudu.

Kekalahan kerajaan Indra Purba tidak di terima dengan lapang dada oleh pihak kerajaan, mereka mengatur siasat dan menyatukan para prajurit untuk menyerang kembali pihak Kerajaan Seudu dan berhasil dikalahkan oleh kerajaan. Kekalahan dalam peperangan di kuta Lingke telah mengubah sejarah hidup Putroe Neng. Ia malah menjadi pemaisuri dalam sebuah pernikahan politis dengan Sultan Meurah johan (putra dari Kerajaan Darud Donya Aceh darussalam) yang berada di daerah daratan Gayo. Meurah Johan merupakan lelaki pertama yang menjadi korban malam pertama dengan Putroe neng perempuan cantik dari Tiongkok awalnya berniat ingin menyatukan sejumlah kerajaan kecil yang ada di pulau Ruja bersatu dibawah sebuah kerajaan besar agar tidak mudah di serang musuh.

Bagi para bangsawan menikahi Putroe Neng yang cantik jelita merupakan sebuah kebanggaan bagi mereka. Kebanggaan tersebut sering dilampiaskan dalam kalimat “nanti malam aku akan tidur dengan Putroe Neng” Namun, hampir tidak ada lelaki yang berhasil mengatakan “tadi malam aku tidur dengan putroe neng”.

Hingga ada seorang laki-laki yang bernama Syekh syiah hudam, guru dari Meurah Johan yang juga sekaligus suami terakhir Putroe Neng yang selamat setelah melewati malam pertama bersama Putroe Neng.

Novel yang bergenre sejarah ini mampu memperkaya budaya dan peradaban bangsa, sangat menarik untuk di baca selain karena pemakaian bahasa dan bumbu cerita telah mencampur adukan fakta sejarah dengan menampilkan tempat yang bagi orang Aceh itu sudah tidak asing lagi dan tetap mempertahankan nama asli dari para tokoh, walau terasa sangat Moderen.

Selama ini kisah Putroe Neng hanya dapat di dengar dari cerita para orang tua saja, kini buku hasil Karya Ayi Jufrizal berhasil membahas kisah Putroe Neng secara detail. Ketangguhan armada perang dan keahlian menaklukan samudra juga ketangguhan strategi bercinta antara Aceh dan Cina. Penulis berhasil mengisahkan penggalan sejarah putroe Neng yang begitu mengalir dan menyentuh ruang imajiner generasi muda Aceh khususnya dengan menelusuri relung-relung fakta dan penggalan cerita serta memadukan sekmen analisis ketangguhan perempuan dan kependekaran, antara cinta dan keperkasaan antara naluri kebangsaan dengan asimilasi budaya.

Karya yang luar biasa….

Buku Sejenis Lainnya »