C'est La Vie

  • Cover C
  • Cover C
Rp 43.500
Hemat Rp 6.525
Rp 36.975
Judul
C'est La Vie  
No. ISBN
9792232826
Penulis
Tanggal terbit
November - 2007
Jumlah Halaman
320
Berat Buku
-
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
135x200mm
Kategori
Metropop
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
Stok Tidak Tersedia
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya

Seperti apa sih hidup itu?

Bagi seorang Amara, hidup ini piece of cake.
Dengan modal kecantikan dan kecerdasannya, dia bisa memiliki segalanya.
Semudah menjentikkan jari tangan…

Untuk Ayu, hidup itu harus dijalani dengan sabar dan tidak neko-neko.
Gadis ndeso asal desa kecil di Yogyakarta ini terbiasa hidup susah.
Sampai suatu hari nasibnya berbalik 180 derajat.
Tapi apakah keberuntungan akan selalu menyertainya?

Sementara itu buat Karina lain lagi.
Si jenius ini punya prinsip: “Hidup ini keras, Jenderal!”
Segala sesuatu harus diraih dengan kerja keras dan usaha.
Termasuk mencari suami…

Ini bukanlah cerita tentang cinta. Ini adalah cerita tentang persahabatan tiga manusia mengarungi satu masa hidup mereka.
Semua serba mengejutkan.
Serba jungkir-balik.
Seperti hidup itu sendiri…

C’est La Vie…
That’s Life…

***

"Setelah Four Seasons in Belgium dan kini C'est La Vie, Fanny telah membuktikan diri sebagai penulis yang menjanjikan."
-Clara Ng, penulis

"Masih tetap seperti karya sebelumnya, buku kedua karya Fanny ini enak dibaca & nggak ngebosenin. Ide ceritanya yang sederhana nggak membuat novel ini kehilangan bobotnya. Dia semakin mempertajam pemikiran-pemikirannya ttg isu-isu perempuan dan perbedaan budaya barat vs Indonesia. Itu adalah beberapa hal yg saya kagumi dari buku ini."
"Sheila Susan Racz, ex-jurnalis, Jerman"

REVIEW C'est La Vie

Oleh : Mickey, 12 Februari 2008-11:55:38

Rating
Adalah 3 sahabat yang sama-sama tinggal di Negeri Belanda.

Amara: dengan segala kelebihannya, kecantikan, kecerdasan, suami dan keluarga yang menyayanginya, merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Keinginannya untuk menjadi koki terkenal terpaksa dia tinggalkan karena ayahnya menganggap itu bukan pekerjaan yang mempunyai masa depan cerah. Menikah dengan atasannya sewaktu masih bekerja di Jakarta, Wim, dan kemudian mereka tinggal di Belanda. Setelah beberapa bulan tinggal di sana, ia mulai merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Ambisinya untuk menjadi koki terkenal masih selalu menjadi obsesinya. Kemudian kesempatan itu ada setelah dia membaca sebuah lowongan menjadi asisten koki di sebuah Koran. Amara kemudian mencoba melamar pekerjaan itu. Ternyata pekerjaan yang dia dapatkan jauh sekali dengan apa yang dia perkirakan. Dia yang cantik, cerdas, dan manja, terpaksa harus mengepel lantai, merajang bawang, mengupas kentang. Semua itu harus dia kerjakan secara sempurna, karena atasannya Jan adalah seorang yang sangat perfect dalam segala hal. Sampai kemudian, ia mengutarakan keinginannya untuk kursus memasak, Jan bersedia membantu dia dengan syarat Amara harus mau diuji secara fisik dan mental, memasak untuk dinilai oleh Jan layak atau tidaknya Amara menjadi seorang koki yang terkenal.

Ayu: mendapatkan kehidupannya berbalik 180 derajat setelah bertemu dengan “mas tom”nya. Dia yang terbiasa hidup susah sejak kecil, menjadi bahan ejekan teman-temannya sewaktu masih di SD karena tidak selalu tidak mempunyai uang berbagai kegiatan. Dia beruntung mempunya seorang nenek yang mengajarkan dia selalu nrimo, sabar, legowo, “Sing Sabar.. wong sabar, disayang Gusti Allah” kata-kata itulah yang selalu menguatkan dia, menyabarkan dia menghadapi semua tantangan dan rintangan dalam kehidupannya. Bahkan ketika ia harus keluar dari sekolah, karena biayanya untuk kuliah kakaknya, ia masih mencoba bersabar. Menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah swalayan karena kakaknya mogok bekerja. Di swalayan ini kemudian dia bertemu dengan seorang Belanda yang bernama Tom, yang kemudian jatuh cinta kepadanya. Mereka kemudian menikah, tinggal di Belanda dan mempunya seorang anak lanang bernama ben yang lucu dan sangat memuja papanya.

Karina: merasa dirinya tidak cantik, dan tidak seksi, yang mempunya motto hidup ini keras jenderal… semua harus diperjuangkan. Dia bekerja di sebuah perusahan terkemuka di Belanda, dan telah 4 tahun berpacaran dengan Kurt yang ia temui ketika ia kekurangan uang ketika sedang berwisata ke Spanyol. Menginjak usia yang 32, dia mulai merasa gamang, desakan keluarganya untuk segera menikah, dan pacarnya yang tidak kunjung melamarnya, membuat dia semakin membuat dia putus asa. Terobsesi untuk mencoba berbagai cara untuk menjadi lebih cantik yang malah membuatnya menjadi sakit.

Mereka bertiga bertemu, bersahabat, saling melengkapi, dan menyangi, segalanya berjalan lancar dan indah dengan diselingi pertengkaran kecil antara Amara dan Karina, tentu saja Ayu yang sabar selalu menjadi penengah.

Waktu yang bergulir, dan mulai menguji persahabatan mereka, Amara yang selalu merasa kecewa dan tidak puas dengan apa yang dia dapatkan, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bahwa hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Ada sesuatu yang harus dia raih dengan perjuangan, susah payah dan membutuhkan mental yang kuat, pantang menyerah. Dan meninggalkan pandangan-pandangan yang kuno dan salah tentang kehidupan. Ayu, yang diuji ketabahannya dengan meninggal suaminya secara mendadak, harus menjadi orang tua tunggal bagi seorang anak kecil yang sangat mengidolakan ayahnya. Sesuatu yang tidak mudah, karena ia selama ini terbiasa nrimo, dan pasrah, terpaksa harus menjadi seorang yang tegar dan mandiri. dan Karina yang selalu merasa bahwa dirinya tidak cukup menarik untuk mendapatkan seorang suami, mendapatkan pelajaran bahwa setiap langkah harus diperhitungkan secara benar-benar matang. Dan pelajaran yang paling penting yang ia petik dalam kehidupannya adalah “jadilah diri sendiri”.

Seharusnya persahabatan ketiga wanita ini sungguh suatu yang indah, dan saling melengkapi, sayangnya, penulis kurang kuat mengaitkan ketiganya, jadi terkesan seperti berjalan sendiri-sendiri dan hanya terkait pada beberapa alur saja. Tidak saling mendukung. Akhir cerita sangat terasa seperti ada yang menggantung dan dipaksakan. Tapi secara keseluruhan, saya suka cerita yang dikarang oleh Fanny Hartanti. Bagus, cukup berkesan, dan tidak monoton. Membuat saya ingin membacanya lagi suatu saat nanti.

Buku Sejenis Lainnya »