Guantanamo Diary

  • Cover Guantanamo Diary
  • Cover Guantanamo Diary
Rp 94.000
Hemat Rp 14.100
Rp 79.900
Judul
Guantanamo Diary  
No. ISBN
9786023850655
Tanggal terbit
April - 2016
Jumlah Halaman
420
Berat Buku
250 gr
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
-
Kategori
Kisah Nyata
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit

DESCRIPTION



Mohamedou Ould Slahi tak pernah menyangka, bahkan tidak dalam mimpi terburuknya, bahwa sore itu ialah kali terakhir dia menjejakkan kaki sebagai manusia bebas. Dia datang ke markas kepolisian Mauritania dengan niat baik: memenuhi panggilan untuk dimintai keterangan. Namun, dia malah ditahan tanpa tuduhan yang jelas. Dia juga harus menjalani rangkaian interogasi, pemerasan informasi, dan penyiksaan. Dia dilarang shalat dan puasa, bahkan dipaksa melakukan hal-hal yang diharamkan ajaran Islam.

Lama ibu Slahi mengira anaknya ditahan di Mauritania. Keluarga­nya mengirimkan pakaian dan makanan, bahkan memberi uang kepada penjaga penjara untuk perawatannya. Hingga suatu hari, adik Slahi mengetahui nama sang kakak ada dalam daftar  tahanan di Guantánamo—sebuah penjara kebal hukum yang didirikan murni karena paranoia Amerika Serikat terhadap terorisme. Kini, sudah lebih dari empat belas tahun Slahi ditahan tanpa diadili. Bahkan ibunya pun meninggal dalam kesedihan menunggu pem­bebasannya.

Buku ini disunting dari 466 halaman tulisan tangan Slahi yang dibuatnya dalam sel yang sampai saat ini masih dihuninya. Amerika Serikat menyensornya dengan ketat sebelum catatan tersebut berhasil diperjuangkan selama tujuh tahun untuk diterbitkan. Itu sebabnya akan dijumpai lebih dari 2.500 coretan stabilo hitam di dalam buku ini. Namun, bahkan sensor pun tak mampu menutupi kejernihan dan ketajaman penuturan Slahi.


KEUNGGULAN NASKAH:


- Guantanamo selalu memiliki daya tarik yang kuat bagi orang-orang yang ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam penjara itu.
- Isu tentang orang-orang muslim yang mengalami kekerasan di dalam penjara-penjara barat selalu membuat orang-orang penasaran dan ingin mengetahui detail kejadian di sana.
- Penulisnya adalah orang muslim yang ditahan tanpa dakwahan di penjara Guantanamo dan sampai saat ini dia masih dikurung di sana.
- Buku diary ini berhasil mendapatkan izin penerbitan, walaupun dengan banyak suntingan dari pemerintah Amerika Serikat, hasil suntingannya tetap ditampilkan dalam buku dengan tanda stabilo hitam yang menambah buku ini semakin menarik.


ENDORSMENT

“Seorang tahanan lama telah menulis buku yang paling mendalam dan menggelisahkan dari kerugian tambahan dalam perang melawan teror.”
—Mark Danner, NYTBR & Editors’ Choice

“Slahi adalah penulis yang fasih, memikat, sekaligus mengesankan, bahkan dalam bahasa keempatnya—bahasa Inggris. Buku Slahi menawarkan pengalaman penyiksaan dari sudut pandang orang pertama. Untuk alasan itu saja, buku ini adalah bacaan yang diperlukan mereka yang ingin memahami bahaya keberadaan Guantánamo terhadap masyarakat Amerika di dunia.”
Deborah Pearlstein, Washington Post

“Sebuah buku baru yang memukau telah muncul dari salah satu tempat yang paling diperdebatkan di dunia, dan pemerintah AS tidak ingin Anda membacanya .... Anda tidak harus meyakini bahwa Slahi tidak bersalah untuk bisa terkejut dengan insiden yang dia gambarkan.”
—Kevin Canfi eld, San Francisco Chronicle

“Guantánamo Diary akan membuat Anda terguncang.”
—Vanity Fair

“Slahi muncul dari halaman diary-nya ... sebagai pribadi yang ingin tahu, murah hati, jeli, cerdas, dan religius, tetapi tidak berarti fanatik .... Guantánamo Diary memaksa kita untuk mempertimbangkan alasan Amerika Serikat telah mengesampingkan ide bahwa sidang tepat waktu adalah cara terbaik untuk menentukan siapa yang layak untuk berada di penjara.”
—Scott Shane, New York Times

 “Sebuah titik balik sejarah dan kemenangan sastra .... Buku harian ini begitu dekat dengan kita hingga kita bisa memahami kehidupan neraka pria ini yang terus menderita. Dia tidak pernah didakwa dengan kejahatan dan diperintahkan hakim untuk dibebaskan pada 2010.”
—Elias Isquith, Salon

“Semua orang harus membaca Guantánamo Diary .... Hanya berdasarkan fakta bahwa buku ini ditulis dalam Guantánamo, buku Slahi akan menjadi kemenangan kemanusiaan atas kekacauan. Namun, ternyata Guantánamo Diary sangat manusiawi. Slahi tidak hanya memanusiakan dirinya, dia juga memanusiakan para penjaga dan petugas interogasi. Bukan berarti dia memaafkan. Justru sebaliknya, dia menggambarkan mereka sebagai individu kompleks yang mengetahui kebaikan dari kekejaman dan benar dari yang salah.”
—Joshua Rothman, Th e New Yorker

“Tragedi pada memoar Slahi bukan hanya soal pelang garan berat pejabat AS. Kehidupan Slahi—jika memang bisa disebut begitu—di Guantánamo bukanlah pengecualian. Ini adalah aturan dan berlanjut hingga sekarang.”
—Alka Pradhan, Reuters

“Guantánamo Diary bisa jadi merupakan penggambaran paling manusiawi dari seluruh sistem pasca 9/11.”
—Omar El Akkad, Globe and Mail

“Sejarah sastra telah dibuat dengan penerbitan pertama buku yang ditulis oleh tahanan Guantánamo yang masih dipenjara .... Yang sama mengherankannya dengan rang kaian penyiksaan yang ada, adalah kehangatan Slahi, bahkan kepada penyiksa dan sipir penjaranya.”
—Noa Yachot, Huffi ngton Post

“Visi neraka, di luar Orwell, di luar Kafka: penyiksaan abadi yang diresepkan oleh dokter gila dari Washington.”
—John le Carré, Penulis novel A Most Wanted Man

“Ini dokumen yang luar biasa dan kisah yang hebat.”
—Steve Kroft , Koresponden 60 Minutes

“Siapa saja yang membaca Guantánamo Diary—dan setiap orang Amerika dengan sedikit hati nurani juga harus membacanya sekarang—akan malu dan terkejut. Permintaan Mohamedou Ould Slahi untuk keadilan sederhana seharusnya menjadi panggilan kita untuk ber tindak. Karena apa yang dipertaruhkan pada kasus ini bukan hanya nasib satu orang yang berhasil melawan segala rintangan untuk menceritakan kisahnya, tetapi masa depan demokrasi kita.”
—Glenn Greenwald, No Place to Hide: Edward Snowden, the NSA, and the U.S. Surveillance State

“Ini adalah kisah menggemparkan dan menggelisahkan yang pemerintah Amerika Serikat coba sembunyikan selama bertahuntahun. Siksaan yang diterima Mohamedou Ould Slahi sudah pasti mengguncang hati nurani. Namun, yang terlihat dalam halaman buku ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: keyakinan abadi dalam kemanusiaan kita, dan kekuatan kebenaran untuk melompati tembok penjara dan jembatan pemisah. Dengan kejelasan yang dahsyat dan kecerdasan yang luas, Guantánamo Diary mengingatkan kita mengapa kita menyerukan hal-hal seperti hak asasi manusia.”
—Anthony Romero, Direktur Eksekutif American Civil Liberties Union

“Setelah dianggap seperti seorang tahanan bernilai tinggi dan diberikan ‘teknik interogasi khusus’ oleh mantan Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld .... Slahi telah meng alami kurang tidur, terpapar suhu dingin dan panas secara ekstrem, berpindah-pindah dengan mata tertutup, dan pada satu titik dibawa ke teluk dengan perahu dan diancam akan dibunuh .... Slahi tidak menghadapi tuduhan kriminal.”
—Carol Rosenberg, Miami Herald


TENTANG PENULIS:

Mohamedou Ould Slahi dilahirkan di sebuah kota kecil di Mauritania pada tahun 1970. Dia menerima beasiswa untuk meneruskan kuliah di Jerman dan bekerja di sana selama beberapa tahun sebagai insinyur. Dia kembali ke Mauritania pada tahun 2000. Tahun berikutnya, atas permintaan Amerika Serikat, dia ditahan oleh pihak berwenang Mauritania dan dikirimkan ke sebuah penjara di Yordania. Kemudian dia diterbangkan kembali, pertama ke Pangkalan Angkatan Udara Bagram di Afganistan, dan akhirnya, pada 5 Agustus 2002, ke penjara AS di Teluk Guantánamo, Kuba, tempat dia menjadi korban penyiksaan berat. Pada 2010, seorang hakim federal memerintahkan agar dirinya segera dibebaskan, namun pemerintah mengajukan banding terhadap putusan tersebut. Pemerintah AS tak pernah mendakwanya dengan sebuah kejahatan. Dia masih dipenjara di Guantánamo.

Larry Siems adalah seorang penulis serta aktivis hak asasi manusia, dan selama bertahun-tahun memimpin Program Freedom to Write di PEN American Center. Dia adalah penulis dan karya terbarunya adalah The Torture Report: What the Documents Say about America’s Post-9/11 Torture Program. Larry Siems tinggal di New York.

REVIEW Guantanamo Diary

GOODREADS REVIEW Guantanamo Diary

Buku lainnya oleh penerbit - Noura Book Publising

Buku sejenis lainnya