Display Buku
Perantau
 
Rp 25.000
Hemat Rp 3.000
Rp 22.000

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari maryulismax
 
  06 Jul 2007 - 11:13:44

Isi Resensi :
Menguji Psikologis Para Pembaca


“Kau mungkin punya diri yang lain di tempat lain. Diri yang mungkin tengah mengembara menikmati dunia. Atau mungkin diri yang bisa tidur, dan kini tengah terlelap menikmati tidurnya entah di mana”. (hal. 11) Begitulah sepenggal kalimat di cerpen “Lelaki Bermantel” yang dimuat di kumpulan cerpen “Perantau” karya Gus tf Sakai ini. Membacanya, tersirat jelas bahwa cerpen ini sedang mengangkat tema jiwa yang terbelah, yang pernah menjadi trend cerita fiksi pada era 80-an dulu, yang muncul lagi beberapa waktu belakangan dengan munculnya karya-karya terjemahan novel psikologis berkaitan dengan kepribadian ganda itu. Cerita jiwa terbelah tentang alter ego di diri seorang individu yang kadang disebut bipolar atau fuga ini, sempat menjadi pembicaraan hangat seiring dengan munculnya kisah nyata tentang gadis yang memiliki 16 kepribadian yang ditulis oleh Flora Rheta Schreiber dalam buku “Sybil” (1973). Semua mata terbuka, bahwa memang ada (atau apakah benar ada?) “diri lain” dalam diri kita masing-masing yang wujudnya kita sendiri tidak pernah tahu. Sukses kisah Sybil, dilanjutkan dengan karya Daniel Keyes berjudul “The Minds of Billy Milligan pada 1981, yang di Indonesia diterbitkan Qanita dengan judul “24 wajah Billy” pada Juli 2005 silam. Apakah Gus tf Sakai mengekor cerita bertema seperti ini? Belum jelas dan bisa jadi. Mengingat cerpen “Lelaki Bermantel” itu sendiri dibuatnya pada 14 November 2003 dan dimuat di Koran Tempo pada 30 November tahun yang sama. Namun berbeda dengan Sybil dan Billy, tokoh sentral dalam cerpen ini hanya punya satu alter ego yang membunuh para gelandangan di kotanya. Sisi lain jiwanya itu, kerap “bertemu” dengannya di malam-malam panjang di saat dia menikmati kehidupan malam kotanya lantaran derita insomnia yang menjangkitinya. Selain cerpen “Lelaki Bermantel”, tema jiwa yang terbelah ini ditemukan pula dalam cerpen “Stefani dan Stefanny” yang penuh pergulatan kata. Cerpen yang pernah dimuat di majalah Horison edisi Maret 2006 itu, jauh lebih berat dibanding “Lelaki Bermantel”. Di tangan pengarang kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat 13 Agustus 1965 itu, cerita psikologi seperti ini dihantarkan dengan jalan cerita yang memaksa pembacanya untuk berpikir dan berpikir. Tak sekedar berpikir, pembaca pun diajak terlibat di dalamnya, melalui pertanyaan yang dilontarkan untuk ketidakjelasan objek yang digambarkan atau pilihan kalimat yang digunakan. Simak saja cara penulisan di cerpen “Lelaki Bermantel” ini. “Diperhatikannya lelaki itu lebih cermat. Samar, di bawah cungkup kepala mantel hujan biru (ataukah hijau?),…” (hal.3). Pertanyaan semacam (ataukah hijau?) ini, hampir sebagian besar ditemukan dalam 12 cerpen yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama itu. Seperti dalam cerpen “Tok Sakat”, Gus tf beberapa kali menggunakan kalimat tanya penuh kebimbangan atas pilihan kata yang dipilihnya. Misalnya, “Ya, tetapi juga ada alam (ataukah lokasi, ataukah ruangan) lain di sekelilingnya yang bagai berdempet (ataukah berlapis)...” (hal.86) “Apakah Gus tf peragu (ataukah sengaja membikin kita ragu?),” mungkin kalimat itu yang akan ada di pikiran kita membaca cerpen-cerpen penuh tanyanya ini. Jawabnya, hanya dia yang tahu, dan kita mungkin akan tahu setelah cerita yang diceritakan memasuki ending yang kadang ke luar (ataukah di luar?) dari pakem yang biasa digunakan cerpenis lainnnya. Bisa jadi, kalimat tanya dalam kurung itu, bagian dari upaya pemenang Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002 serta SEA Write 2004 atas kumpulan cerpen “Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta” (1999) tersebut, untuk mengulik-ulik psikologis para pembaca dalam menyimak fiksi psikologinya ini. Jika itu iya, maka wajar bila seluruh cerpen di buku Kumcer “Perantau” ini, hampir seluruhnya berbau psikologi yang dituliskan dalam bahasa metaforis yang kadang sangat berat untuk pembaca yang terbiasa dengan cerpen-cerpen biasa. (***)
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]