Display Buku
Turquoise : Kisah Sang Singa Perkasa Dari Kohina
 
Rp 59.000
Hemat Rp 8.850
Rp 50.150

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari putrasurya
 
  02 Jan 2008 - 09:00:01

Isi Resensi :
Penulis Indonesia, Kisah Kelas Dunia


Dalam komentarnya atas novel “Turquoise,” cerpenis Kurnia Effendi menulis: “Sebuah riwayat, sedahsyat apa pun, akan tinggal membeku tertimbun gurun waktu, kecuali: seseorang mengangkatnya kembali dengan cara pandang yang cemerlang. Titon Rahmawan telah menulis secara serius, sehingga terasa betapa kemegahan kisah cinta dan kepahlawanan selalu mencuri perhatian kita untuk menyimak dengan kekaguman tersendiri. Turquoise telah memperlihatkan kelebatan cahaya masa lalu, hadir melalui kata-kata yang anggun dan mudah dimengerti. Kita, diam-diam, telah memiliki pengarang setara Tariq Ali.” Apakah Kurnia Effendi telah dengan sengaja memberikan pujian yang berlebihan di dalam komentarnya itu, sehingga berani menyetarakan seorang penulis pendatang baru dalam ranah kesusasteraan Indonesia dengan seorang penulis besar seperti Tariq Ali? Ataukah ia telah memberikan sebuah penilaian yang jujur dan sekaligus obyektif? Kita hanya mungkin menemukan jawabannya secara pasti, yaitu dengan cara mengukur sendiri ‘nilai’ yang terkandung dalam novel “Turquoise” karya Titon Rahmawan tersebut dengan cara yang obyektif. Dari cover depan novel, kita dapat memperoleh sedikit gambaran tentang isi cerita. Terpampang gambar yang cukup heroik dari seorang pahlawan berpedang yang mengenakan kostum khas Timur Tengah berwarna putih. Pahlawan kita itu tampak sedang mengendarai seekor kuda gagah yang juga berwarna putih. Di sisi lain, terdapat gambar insert berupa sebilah pedang yang pada gagangnya terikat sebuah kalung yang indah berhiaskan batu turquoise berwarna hijau, yang saya kira dimaksudkan oleh ilustratornya untuk mewakili judul cerita. Di latar belakang dapat kita lihat wajah seekor serigala yang tengah menyeringai, dan siluet sepasukan tentara dengan langit jingga membara yang seolah-olah terbakar. Sebuah cover yang sangat menarik dan cukup mampu memberikan gambaran kepada calon pembaca mengenai isi buku yang sebenarnya. Sementara itu, dari berbagai komentar yang terdapat di bagian belakang buku, dan juga dari analisa sepintas atas gambaran cover di depan kita segera dapat membayangkan sebuah kisah petualangan yang seru. Dengan bumbu-bumbu kisah percintaan yang romantis, persahabatan, dongeng fantastis ala seribu satu malam, yang dipadukan pula dengan kisah-kisah para sufi, dan barangkali juga tragedi ala Shakespeare. Sebuah gambaran awal yang sangat menjanjikan untuk sebuah buku setebal kurang lebih 415 halaman. Namun apakah janji-janji itu akan terpenuhi di dalam isi cerita? Mari kita coba melangkah lebih jauh. Pada halaman depan tertera gambar peta “Land of God” dan peta “Kota Makarresh” yang merupakan setting lokasi di mana kisah tersebut berlangsung. Sementara di bagian belakang akan kita temukan glosarium. Serangkaian petunjuk yang cukup lengkap dan sekaligus cukup detail untuk mengantarkan pembaca kepada petualangan Husayn Bishemi. Setidaknya, kedua hal tersebut merupakan sebuah poin tersendiri yang menunjukkan keseriusan sang penulis dalam mengolah bahan-bahan studi pendukung yang kemudian tertuang di dalam novelnya tersebut. Selanjutnya marilah kita simak jalan cerita yang ditawarkan oleh sang penulis, yang sepertinya lebih suka meletakkan dirinya dalam posisi sebagai sang pendongeng. Kisah diawali dengan deskripsi latar cerita yang cukup rinci. Lengkap dengan suasana dan juga gambaran budaya masyarakat kota Makarresh, sampai kemudian sang pendongeng membawa kita memasuki kisah petualangan Husayn Bishemi yang sesungguhnya. Sebuah kisah yang setelah kita ikuti lembar demi lembar tidak saja menyajikan eksotisme petualangan fantasi ala cerita seribu satu malam atau romantisme percintaan ala Romeo dan Juliet. Namun lebih daripada itu, juga telah berhasil mengetengahan perenungan yang mendalam atas arti cinta dan persahabatan, pertentangan nilai-nilai filosofis dan religius, perbedaan kelas sosial, dan juga nilai-nilai keberanian dan kepahlawan demi melawan kezaliman, serta aspek-aspek sosio kultural budaya sebuah bangsa dengan cara yang sangat memukau. Secara jujur harus saya akui, bahwa Kurnia Effendi tidak mengada-ada atau sekadar bermanis kata manakala memberi komentar yang sedemikian luar biasa kepada novel pertama karya Titon Rahmawan ini. Karena penilaian yang sama, yang sejauh mungkin saya upayakan sebagai sebuah penilaian yang obyektif, dengan senang hati harus saya berikan kepada Titon Rahmawan. Bahwa Titon telah menyajikan sebuah karya yang luar biasa menawan lewat proses yang benar-benar serius. Saya yakin sekali, ia telah melewati proses penulisan yang panjang demi menghasilkan karya perdananya ini. Tak pelak lagi, novel ini pastilah telah melalui serangkaian studi yang cukup mendalam. Sehingga dapat saya katakan, “Turquoise” adalah merupakan sebuah terobosan baru dalam genre karya-karya fiksi di Indonesia. Membaca novel ini seakan-akan saya tidak membaca karya seorang penulis asli Indonesia, melainkan membaca karya seorang penulis kelas dunia. Karya ini, saya kira cukup layak untuk disandingkan dan sekaligus dibandingkan dengan novel-novel besar semacam “The Alchemist” karya Paulo Coelho, atau “Balthasar’s Odyssey” karya Amin Maalouf. Dan barangkali, dengan karya-karya Tariq Ali sendiri. Namun yang jelas, “Turquoise” tak kalah memesona bila dibandingkan dengan “The Thief of Bagdad” karya Alexander Romanoff atau “The Madness of God” karya Shawni. Dalam penilaian saya, ia hanya sedikit di bawah “The Snow” karya Orhan Pamuk atau “Zuqaq al-Midaq” karya Najib Mahfuz. Kekuatan utama novel “Turquoise” saya kira adalah pada kemampuan penulisnya dalam melukiskan watak dan karakter tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat hidup, serta dalam penggambaran latar cerita yang benar-benar utuh. Sekalipun intensitas fiksional terasa kental mewarnai seluruh jalinan kisahnya. Akan tetapi, kita seakan-akan benar-benar telah dibawa menyaksikan kota Makarresh itu dari dekat. Dan sepertinya, kota itu adalah benar-benar merupakan bagian dari negeri-negeri di Timur Tengah. Selanjutnya, kita akan dibuat terpukau oleh kemampuan sang penulis dalam menggambarkan aroma wewangian yang tercium saat senja di tengah Lapangan Kematian, juga pada detail tradisi budaya masyarakat hingga makanan khas penduduk kota Makarresh. Dan tentu saja, bukan cuma hal itu yang membuat kisah ini menjadi semakin menarik. Karena di setiap bab, kita akan terus-menerus dihadapkan pada berbagai kejutan demi kejutan yang bermuara dari kelokan alur cerita yang secara kuat mengusung unsur suspense yang semakin meningkat intensitasnya hingga sampai ke akhir cerita, tanpa tentu saja melupakan logika cerita yang masuk akal. Benar apa yang dikatakan Ratna Dwi Yulianti dalam komentarnya di cover belakang yang menyatakan, bahwa Titon Rahmawan telah berhasil mengangkat kisah Husayn Bishemi alias Sang Singa Perkasa dari Kohina ini menjadi sebuah cerita yang sangat menakjubkan, membentuk sebuah perpaduan yang cerdas dari ramuan intensitas dramatis, petualangan mistis, ketegangan psikologis, kearifan masa lampau dan sekaligus gaya tutur yang bertabur puisi. Kelima unsur itu telah menjelmakan kisah Husayn ini bukan sekadar sebagai dongeng pengantar tidur, melainkan telah menjelma menjadi sebuah buku yang sangat kuat dan sekaligus berkarakter. Gaya tuturnya yang puitis mungkin sedikit mengingatkan kita pada gaya penulisan Najib Mafuz novelis besar dari Mesir itu. Namun demikian, novel ini telah berhasil menampilkan bobot karakternya sendiri yang unik. Dan oleh karena itulah, sudah seharusnya “Turquoise” menjadi sebuah buku wajib bagi para pencinta bacaan berkualitas. Sebuah karya besar, yang saya kira akan semakin menyemarakkan dunia kesusasteraan di tanah air, terlebih setelah kelahiran “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang fenomenal itu. Dan saya sudah tak sabar lagi menunggu petualangan Husayn Bishemi selanjutnya, yang akan hadir dalam sekuel novel berikutnya yang berjudul “Sapphire.” putrasurya
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]