Display Buku
Pengakuan: Eks Parasit Lajang
 
Rp 60.000
Hemat Rp 3.000
Rp 57.000

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari anarikevol
 
  09 Des 2013 - 14:17:22

Isi Resensi :
Ideologi Kuat dalam Kisah Hidup yang Mendebarkan


Autobiografi Pengakuan Eks Parasit Lajang ini menceritakan kehidupan seorang perempuan, yaitu tokoh A yang memutuskan untuk melepas keperawanannya pada usianya yang ke-20. Keputusan yang memang diluar perkiraan. Karena selama hidupnya ia selalu berusaha melawan nilai-nilai adat, agama, dan hukum yang patriarkal. Hal yang demikian dapat dilihat secara kental dalam buku Ayu Utami sebelumnya, yaitu Si Parasit lajang. Walaupun begitu, pemikirannya tentang berbagai nilai yang dia pegang tidak serta merta hancur karena keputusan untuk mengakhiri masa lajangnya. Pengakuan Eks Parasit Lajang merupakan triologi dari kedua karya Ayu Utami yang lain, yaitu Cerita Cinta Enrico dan Si Parasit Lajang. Di dalamnya menguak sisi sejarah masa lalu hingga masa dewasa ini sejalan dengan kehidupan pengarang itu sendiri. Dan tentu saja merupakan lanjutan dari buku sebelumnya, walaupun tidak terlalu berpengaruh jika tidak membaca dua buku sebelumnya. Karena di setiap buku memiliki inti yang berbeda meskipun tetap ada benang merahnya. Autobiografi ini membawa pembaca dalam memahami berbagai nilai yang ditawarkan dunia dalam sudut pandang universal. Tidak seperti karya sastra serius kebanyakan yang memerlukan pemikiran kritis untuk memahaminya, Ayu Utami menyajikan keseluruhan isi cerita secara ringan dan cerdas. Pandangan-pandangan berat Ayu Utami tidaklah dikemas seperti Saman atau Larung yang memerlukan fokus tinggkat tinggi dalam mengetahui maksud sesungguhnya. Justru dalam autobiografi ini telah dibaluri cerita yang mudah dicerna dan pastinya akan membuat pembaca ketagihan untuk membuka lembar demi lembar. Salah satunya adalah memperlihatkan kisah cinta zaman modern kini yang akan diperlihatkan dalam sisi gelap maupun terang. Sisi gelap menggambarkan keburukan kisah percintaan dewasa ini, dan sisi terang menonjolkan bahwa masih ada kemurnian cinta lewat suatu pengorbanan. Pertemuan tokoh A dengan laki-laki yang sangat mencintainya membuat tokoh A menyadari suatu hal dan membuatnya harus menghadapi keputusan yang tidak disangka-sangka. Bahkan, Nik pacar pertama sekaligus cinta pertamanya tidak pernah berhasil membuat tokoh A memilih keputusan yang dipilihnya bersama dengan Rik. Di tengah perjalanan hidup yang semakin mendesak, tokoh A dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang mau tak mau harus ia pilih. Dan pilihannya akan merubah beberapa hal, namun tanpa mengubah ideologinya. Perubahan keputusan tokoh A dimulai ketika ia melakukan sistematika atas struktur ideologinya. Ia menemukan bahwa menikah atau tidak menikah bukanlah inti permasalahan yang sebenarnya jika dalam suatu struktur lembaga sudah tidak ada perbedaan antara kedudukan laki-laki dan perempuan. Buku ini memberikan warna tersendiri bagi dunia sastra di Indonesia. Selain merupakan autobiografi seksualitas sekaligus spiritualitas pertama di Indonesia, buku ini mampu memberikan pengaruh kuat bagi pemahaman mengenai kesamaan hak laki-laki dan perempuan. Sebagai feminis, Ayu Utami memiliki pandangan yang kuat untuk menjunjung haknya sebagai perempuan. Perempuan yang dahulu dilukiskan sebagai kaum kedua atau marginal, dewasa ini sudah banyak hukum yang menegakkan diskriminasi tersebut. Bersamaan dengan itu juga telah mengubah cara pandang Ayu Utami dalam menelaahnya. Autobiografi ini agaknya berusaha untuk percaya pada kebijakan hukum kontemporer yang telah berusaha untuk menyetarakan hak-hak perempuan. Seksualitas yang menjadi ciri khas Ayu Utami senantiasa menggiring pembaca dalam petualangan hidup yang mendebarkan. Beberapa kisah terjadi seperti kisah cinta biasa, seperti kisah cinta dewasa ini. Namun pembaca akan melihatnya berbeda dari kisah lain karena ideologi-ideologi kuat terpapar indah dalam pemikiran tokoh A sehingga cerita tidak menjadi membosankan, melainkan membuat penasaran. Tidak kurang pemaparan yang cantik dengan memasukkan cerita masa lalu di tengah alur yang sedang berjalan. Alur yang demikian pastinya akan membawa pembaca mengerti keadaan sebelum atau yang akan datang bahwa setiap keping perjalanan hidup tokoh A memiliki kaitan dengan masa lalu dan masa depan. Uniknya, pemaparan mengenai masa lalu atau masa yang akan datang tidak secara rinci disuratkan, melainkan sebatas informasi kecil, namun mampu menjadi bagian dari cerita yang penting. Kisah yang beralur maju-mundur ini juga mengantarkan pembaca pada suatu dunia yang hidup bersebelahan dengan kita. Dunia spiritual—bagaimana tokoh A menceritakan masa kecilnya dalam bayang-bayang keluarga ayahnya yang dekat sekali dengan hal-hal gaib. Kisah-kisah yang tersurat mendendangkan pembaca pada hantu-hantu lama dan cerita-cerita yang memiliki sejarah yang panjang. Cerita sejarah lama itu akan menyihir pembaca masuk dan mendapati makhluk-makhluk tersebut seakan terasa di sekitar pembaca. Buku ini dikemas dengan suatu fokus kuat sehingga memblurkan bagian-bagian tertentu agar pembaca dapat melihatnya secara sintagmatik dan bukan paradigmatik. Itu jelas menarik ketika pembaca tidak disajikan sesuatu yang sesungguhnya dalam paparan yang detail. Dengan begitu, pembaca bisa ikut memasukkan daya imajinasinya dan membayangkan keadaan seturut keinginan pembaca. Lebih menarik lagi ketika pembaca memasuki bagian pemikiran Ayu Utami pada halaman 169 sampai habis. Seksualitas dan spiritualitas dalam autobiografi ini pastinya akan menuntun pembaca pada suatu pemahaman yang tidak dari satu sisi saja.
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]