Display Buku
Rahasia Meede : Misteri Harta Karun Voc
 
Rp 79.000
Hemat Rp 3.950
Rp 75.050

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari unai
 
  08 Apr 2008 - 10:40:41

Isi Resensi :
Menguak Rahasia Berbalut Intrik


Setelah sukses dengan novel perdananya “Negara Kelima”, kali ini E.S. Ito kembali mengetengahkan data dan latar belakang sejarah nusantara yang kuat dalam novelnya yang kedua berjudul “Rahasia Meede”. E.S. Ito bernama asli Eddri Sumitra, merupakan Lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan ke-7. Ia merampungkan buku ini dalam waktu yang terbilang tidak sebentar (dua tahun), dan ia berhasil melahirkan karya yang luar biasa. Dengan cantik, Ito mengemas fakta sejarah dan merangkainya menjadi fiksi memukau. Data yang dihadirkan begitu komplit, referensi dan wawancara dengan ahli sejarah dilakukannya, dan untuk dokumen-dokumen penting berbahasa Belanda, Ito memanfaatkan jasa alih bahasa teman-temannya. Dalam ”Rahasia Meede”, Ito sangat bersemangat mengajukan sindiran terhadap pemerintah dan kritik terhadap mental bangsa. Sama dengan novelnya terdahulu, di sini, Ito mengajak pembaca untuk mencari celah misteri dan memecahkan teka-teki, dalam rangkaian potongan data sejarah. Pembaca dibuatnya tercengang dengan data yang dipaparkan olehnya. Cerita dalam novel ini bermula dari proses perundingan Konferensi Meja Bundar (1949) di Den Haag. Bung Hatta akhirnya menyetujui klausul terakhir yang diajukan Belanda bahwa Indonesia bersedia menanggung beban hutang Hindia Belanda sebagai syarat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Dokumen tentang harta VOC, telah merubah penolakan mereka menjadi persetujuan. Dari sinilah semua bermula. Hasil perundingan Konferensi Meja Bundar 1949 di Den Haag memang mengundang kontroversi. Kesediaan delegasi Indonesia untuk menanggung hutang Hindia Belanda sebesar 6.1 miliar gulden, sebagai syarat diakuinya kedaulatan Indonesia oleh Belanda adalah harga yang sangat mahal, baik dilihat secara ekonomi maupun dilihat dari martabat bangsa. Sebuah kabar menyatakan bahwa Bung Hatta akhirnya menerima klausul tersebut karena sebuah informasi tentang adanya dana atau harta tersembunyi peninggalan VOC yang nilainya masih jauh lebih tinggi dari jumlah hutang yang dituntutkan Belanda. Sehingga penerimaan klausul itu tidak akan merugikan Indonesia secara ekonomi, dan yang pasti akhirnya kemerdekaan Indonesia diakui. Sayangnya dokumen tersebut sebagian hilang dalam pengiriman dari Den Haag ke Jakarta. Pejabat VOC Cornelis Speelman, bersama dua orang pribumi yang memiliki pengikut setia Kapitan Jonker, dan Arung Palakka pada tahun 1666 “Monsterverbond” yang secara de facto menjadi pengendali VOC. Pada masa kekuasaan mereka, dilakukan penggalian emas besar-besaran di Salido Sumatera Barat tapi selalu dilaporkan tidak berhasil menemukan banyak emas dan tidak ada emas yang dikirim ke Belanda. Setelah Speelman meninggal, para pesaing politiknya berusaha menyingkirkan Kapitan Jonker dan Arung Palakka. Jonker difitnah dan dipancung. Arung Palakka dibiarkan sibuk sebagai raja di Bone, daerah kecil di Sulawesi Selatan. Rahasia harta yang ditimbun Monsterverbond tidak terungkap. Rahasia itu diduga disimpan oleh anggota keempat Monsterverbond, Pieter Erberveld. Pieter Erberveld senior meninggal dengan tenang. Anaknya yang juga bernama Pieter Erberveld-lah yang menjadi sasaran. Seorang opsir bernama Clusse ditugaskan memata-matai Pieter. Clusse mengorek informasi dengan pura-pura menjalin cinta dengan anak perempuan Pieter yang bernama Meede. Pieter Erberveld yunior dan para pengikutnya akhirnya difitnah dan ditumpas oleh Gubernur Jenderal Belanda pada saat itu. Pieter Erberveld disiksa secara sadis hingga tewas. Namun Meede, anak perempuannya, menghilang tanpa jejak. Penokohan dan Karakter Ada banyak tokoh di dalam novel setebal 675 halaman ini. Batu Noah Gultom, Ia merupakan perantau asal Batak yang bekerja sebagai wartawan di koran Indonesiaraya. Ia kemudian ditugaskan oleh Parada Gultom (Pinpinan Redaksi Indonesiaraya) untuk melacak kasus pembunuhan berantai tokoh-tokoh penting. Cathleen Zwinckel, Wanita Belanda yang melakukan riset di Indonesia demi tesis masternya tentang sejarah ekonomi kolonial. Profesor Huygens yang membimbing tesisnya, menghubungkannya dengan Center for Strategic Affair (CSA) untuk pelaksanaan riset. Lusi dan Rian, teman Cathleen di CSA, ada juga Suhadi, pegawai Arsip Nasional RI tempat Cathleen mendapatkan data sejarah VOC. Robert, Erick, dan Rafael, mereka adalah peneliti muda dari Belanda yang ingin mengungkap rahasia kota di bawah tanah. Mereka dikirim oleh Yayasan Oud Batavie. Dan Tokoh sempalan yang menurut saya tidak berperan penting namun memaparkan pengetahuan sejarah adalah Pak Guru Uban. Beliau adalah tenaga pengajar sejarah di SMA Abdi Bangsa yang diperuntukkan bagi anak2 kurang mampu. Tiga peneliti muda dari Belanda akhirnya berhasil menemukan terowongan bawah tanah di bawah Museum Sejarah Jakarta. Diduga ujung utaranya berada di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa, dan ujung selatannya bisa jadi berada di sekitar Istana Negara atau bahkan Monumen Nasional. Tapi ternyata bukan cuma mereka yang mencari keberadaan bangunan bawah tanah ini. Cathleen dan Lusi diculik. Mereka disekap di ruang mesin sebuah kapal. Dan dibawa berlayar beberapa hari. Hingga akhirnya di sebuah tempat di pulau Banda, Cathleen bertemu dengan dalang penculikannya. Kalek, seorang pria muda cerdas yang bisa menjawab banyak pertanyaan Cathleen tentang sejarah kolonial. Seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus dengan nama sandi Lalat Merah, memburu Kalek hingga ke pulau Banda. Kalek diduga kuat adalah Attar Malaka, pimpinan organisasi Anarki Nusantara. Kalek dan Lalat Merah ternyata adalah sahabat lama yang bersimpangan jalan. Mereka berdua adalah teman karib seperjuangan semasa masih menjalani pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Ito mempertontonkan keluasan pengetahuannya dalam banyak hal, dan kemudian memadukannya secara cermat ke dalam jalinan celah cerita. Betapa semua tersusun rapi, dan ia sangat memahami tentang seluk-beluk operasi intelijen. Karya dan pemikiran Mohammad Hatta dan Mahatma Gandhi. Membingungkan namun Membuat Penasaran Pada bab-bab awal, novel ini membingungkan. Karena novel ini berselang-seling menceritakan setting, penokohan, dan plot yang berbeda. Agak melelahkan dan sama sekali tak mengerti, akan bermuara ke mana cerita Ito ini? Perkenalan dengan tokoh-tokoh baru sebelum satu plot dengan plot yang lain yang sama sekali belum terlihat hubungannya. Namun.. ketika tokoh-tokoh mulai dikenali, cerita menjadi sangat menarik. Puncak suspensi novel ini adalah ketika harta karun itu ditemukan. Berbagai kejutan membuat pembaca terpana. Semuanya dipaparkan dengan rangkaian sejarah, kronologis kejadian, serta pengetahuan lain yang kadang kita abaikan. Ito menyajikan sejarah dengan cara yang berbeda. Sejarah tidak lagi sebuah bacaan membosankan, meskipun kebenaran sejarah yang diangkat dalam novel ini bisa jadi masih merupakan perdebatan. (Nai)
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]