Display Buku
The Janissary Tree - Dalam Bayangan Pohon Yenicheri
 
Rp 49.900
Hemat Rp 2.495
Rp 47.405

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari bahtiarhs
 
  13 Okt 2009 - 11:39:13

Isi Resensi :
Menggoyang Topkapi dari Bawah Pohon Yenicheri


Judul The Janissary Tree Dalam Bayangan Pohon Yenicheri Penulis Jason Goodwin Penerjemah Zia Anshor Penyunting Anton Kurnia Jenis Novel misteri / detektif Penerbit PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta Terbit Cetakan I, Maret 2008 ISBN 978-979-024-027-8 Tebal 479 hal Ukuran 13 x 20 cm Jason Goodwin, penulisnya, membawa kita pada jaman kekaisaran Turki Usmani ketika Sultan Mahmud II memerintah sekitar awal abad 19. Peraih John Llewelyn Rhys/Mail on Sunday Prize tahun 1993 atas bukunya On Foot to the Golden Horn: A Walk to Istanbul ini mengambil seting tahun 1836 untuk The Janissary Tree. Itu berarti 10 tahun sesudah pasukan Yenicheri (Yenicęri) berhasil dihancurkan oleh penguasa Turki Usmani kala itu melalui tangan pasukan Garda Baru. Pasukan Yenicheri dibentuk oleh Sultan Murad I pada abad ke-14 dengan mengambil anak-anak lelaki Kristen dari wilayah yang ditaklukkan dan memaksa mereka menjadi muslim. Mereka ditempa menjadi mesin perang Kesultanan Usmani untuk menghadapi Eropa. Tak kurang 300 tahun pasukan ini berjaya membantu Turki Usmani menaklukkan berbagai wilayah, termasuk menaklukkan Konstantinopel pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II pada 1453. Ketika kemudian tidak lagi sering di medan peperangan, pasukan elit sultan ini menjelma menjadi mafia bersenjata yang memenuhi Istanbul, menciptakan teror, kerusuhan, penjarahan, dan pemerasan tanpa tersentuh hukum. Mereka biasa menciptakan kebakaran guna mendapatkan keuntungan, karena memadamkan kebakaran adalah tugas rangkap mereka. Berbagai usaha untuk memberantas hegemoni pasukan ini gagal, bahkan pada tahun 1618 mereka berhasil membunuh Sultan Osman II yang menentang mereka. Pasukan Yenicheri memiliki kebiasaan berkumpul di bawah sebatang pohon chinar yang tumbuh di lapangan terbuka Ameidan. Di bawah pohon itu, mereka berbagi keluhan dan rahasia serta merencanakan pemberontakan. Dan pada cabang-cabang pohonnya, mereka menggantung mayat orang-orang yang menentang mereka. Namun akhirnya, pada malam nahas itulah, ‘Saat Kejayaan’, malam 16 Juni 1826, ribuan anggota pasukan elit itu tewas mengenaskan di barak mereka ketika dihujani meriam oleh pasukan Garda Baru yang dibentuk Sultan. Sisanya menjadi buruan. Dan inilah satu-satunya ‘prestasi’ pasukan baru didikan gaya Eropa ini, karena dalam berbagai peperangan melawan musuh mereka selalu mengalami kekalahan. *** Cerita bermula ketika Yashim, seorang kasim investigator kepercayaan Istana Topkapi, dipanggil Sang Seraskier, komandan pasukan Garda Baru. Ada 4 orang kadet Garda Baru yang terlatih telah hilang. Satu diantaranya, Orman Berek, diketemukan Seraskier telah menjadi mayat dengan muka yang rusak terbujur kaku di dalam sebuah belanga raksasa di sebuah kandang kuda. Ia minta bantuan Yashim untuk membongkar kasus itu, menemukan ketiga anggota pasukan lain, sebelum Sultan mengadakan peninjauan dan mengumumkan maklumat reformasi di tubuh kesultanan Turki Usmani. Seraskier ingin peninjauan ini sukses agar kedudukan Garda Baru meningkat di mata Sultan dan rakyat. Pada saat yang hampir bersamaan, Yashim juga dipanggil Sultan Mahmud II ke Istana Topkapi. Seorang gözde, dara jelita selir Sultan yang terpilih menemaninya malam itu mati terbunuh di harem. Cincin perak bergambar dua ular melingkar saling menggigit ekor yang sebelumnya tersemat di jarinya, kini hilang entah kemana. Permata milik Validé Sultan, sang ibu suri, yang dikenakannya juga lenyap. Yashim, sebagai kasim yang memang memiliki hak memasuki harem, diminta Sultan untuk menyelidiki kematian itu, termasuk hilangnya permata ibu suri. Mulailah Yashim menyelidiki kedua kasus itu. Kematian demi kematian ketiga anggota pasukan Garda Baru dengan cara yang mengenaskan kemudian terjadi di berbagai tempat. Mayat demi mayat mereka diketemukan. Atas saran Stanislaw Pawleski, temannya yang juga duta besar Polandia untuk Sublime Porte Turki Usmani, berdasarkan tempat ditemukannya mayat-mayat itu, Yashim menemukan pola pekerjaan si pembunuh. Bahwa semua mayat ada keterkaitan dengan jejak-jejak Yenicheri. Apakah pasukan Yenicheri masih eksis setelah dihancurkan 10 tahun yang lalu? Apakah kasus ini ada hubungannya dengan upaya mereka untuk membalas dendam terhadap Garda Baru? Apakah ada motif lain? Apa ada hubungannya antara kasus ini dengan kasus terbunuhnya selir Sultan yang keduanya terjadi pada waktu yang hampir bersamaan? Siapakah yang membunuh keempat kadet pasukan Garda Baru? Apakah Graf Potemkin, atase muda di kedutaan Rusia, orang yang terakhir kali terlihat bersama keempat kadet itu sebelum mereka menghilang? Siapa pula pembunuh si gözde? Selir yang lain, yang merasa iri padanya? Peristiwa demi peristiwa lalu mengalir, mengantarkan Yashim pada penguakan misteri pembunuhan ini. Berbekal berbagai fakta tentang Yenicheri, empat bait puisi yang diperolehnya di bawah pohon Yenicheri, dan bantuan beberapa temannya, Yashim sedikit demi sedikit bisa menguak tabir misteri itu. Beberapa temannya tak ayal menjadi korban atas penyelidikan ini. Bahkan nyawanya sendiri pun nyaris melayang dalam sebuah pemandian umum ketika dijebak seseorang yang merupakan bagian dari konspirasi ini. Ketika akhirnya misteri ini tersingkap, dan siapa dalang yang berada di baliknya yang nyaris tak terduga di tengah kecamuk sebuah pemberontakan di dalam Istana Topkapi maupun di luar, hal itu semakin meneguhkan kemisterian dan ‘kedetektifan’ novel ini. *** Saya setuju jika The Janissary Tree dikatakan novel detektif penuh misteri beraroma politik dengan seting Istanbul dan Istana Topkapi yang eksotik pada abad 19. Jason sendiri seorang yang telah mengakrabi Istanbul dan sejarahnya dalam beberapa masa, sehingga goresan penanya dalam menggambarkan kota penting itu beserta cuplikan sejarah yang menyertainya telah membuat pembaca novel ini serasa seperti diterbangkan ke masa Sultan Mahmud II memerintah. Ditambah dengan cara dia meramu cerita, yang meski menggunakan plot maju, tetapi menggunakan beberapa jalur cerita dan meloncat-loncat urutan penceritaannya antara jalur satu dengan jalur lainnya, telah membuat novel ini unggul dan sesuai dengan klaimnya sebagai novel detektif. Cara penceritaan ini seperti mengalirnya air pada berbagai sungai, tetapi pada akhirnya bersatu di sebuah titik menuju muara. Karakterisasi para tokohnya juga mengena. Kita dibuat terkesan dengan masing-masing tokoh, terutama Yashim. Anda juga bisa mengamati bagaimana dia menggambarkan Sultan Mahmud II, Valide Sultan, Palewski, Preen, seorang penari, Eugenia, istri duta besar Rusia Nikolai Derentsov, Kislar Agha, kasim kepala harem. Dan sebagainya. Ini tidaklah mengherankan karena Jason banyak dibantu oleh para penulis dan pekerja film dalam menulis novelnya ini, seperti Daisy Goodwin, Christine Edzard, Richard Goodwin. Yang terakhir ini sudah sering memfilmkan novel-novel Agatha Cristie. Yang menyegarkan novel detektif ini adalah disisipkannya beberapa kisah asmara yang tak terbayangkan antara Yashim dan Eugenia, cinta diantara selir sultan, kehidupan kasim, dan juga fakta-fakta sejarah Turki Usmani, seperti bagaimana Sultan Salim terbunuh, Valide Kosem dicekik di harem, pembunuhan Osman II, dan sebagainya. Diramu dengan hilir mudiknya para tokoh di Istana Topkapi, masjid-masjid, menara-menara, pasar-pasar, jalan-jalan, kedai, pemandian umum di sekitar Istanbul, dan penggunaan busana serta tarian darwis, semakin menambah ‘keturkian’ kisah ini. Meski pada beberapa bagian saya agak sulit menangkap maksud cerita, mungkin juga karena terjemahan yang kurang tepat, tetapi rasanya tidak rugi membaca novel ini. Apalagi The Janissary Tree sempat menjadi pemenang Edgar Award 2007 untuk kategori The Best Mystery. Buku ini pun sudah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa. Dan dari blog Jason Goodwin saya dapatkan informasi bahwa ada serial dari The Janissary Tree ini dengan Yashim tetap sebagai tokoh utamanya. Sekuel novel Jason berikutnya itu adalah The Snake Stone (2007) dan The Bellini Card (2008). Jadi, sambil kedua novel lanjutannya diterjemahkan, entah oleh siapa saat ini, saya kiranya yakin Anda pun akan suka membaca sekuel pertama ini terlebih dahulu. Bukan begitu, sobat? *** Bahtiar HS Penulis Jejak-jejak Surga Sang Nabi (LPPH, 2008) Owner http://bahtiarhs.net
Rating
+1 rating+1 rating+1 rating+1 rating+0 rating


 
 
[Semua Resensi Buku Ini]