Satu Hari Bersamamu - For One More Day

  • Cover Satu Hari Bersamamu - For One More Day
Rp 38.500
Hemat Rp 5.775
Rp 32.725
Judul
Satu Hari Bersamamu - For One More Day  
No. ISBN
978
Penulis
Tanggal terbit
Desember - 2007
Jumlah Halaman
248
Berat Buku
-
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
135x200mm
Kategori
Drama
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
Stok Tidak Tersedia
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya


For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada? Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi "anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya." Maka dia memilih ayahnya, memujanya---namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh. Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya---yang meninggal delapan tahun silam masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa. *** "Dikisahkan dengan sederhana, sentimental, dan begitu benar. Sebuah fable kontemporer yang akan dinikmati oleh khalayak luas." - Publishers Weekly "Buku yang akan menggugah dan memberikan penghiburan bagi para pembacanya." - The New York Times

REVIEW Satu Hari Bersamamu - For One More Day

Oleh : vreto75, 24 Jan 2008-11:29:47

Rating
Gw kebetulan baca versi bahasa aslinya (Inggris) and pengen share ajah tentang bagusnya buku ini.

Setelah sukses dengan karya perdananya, "Tuesday With Morrie", (1997) yang bertahan di jajaran bestseller NY Timer selama 4 tahun dan merupakan memoar tersukses yang pernah diterbitkan, Mitch Albom menghasilkan novel perdananya dengan tajuk "The Five People You Meet In Heaven". Ditengarai sebagai salah satu novel perdana dengan cetakan hardcover tersukses di AS yang pernah ada dan hingga kini sudah terjual sebanyak 8 juta kopi di seluruh dunia.

Kedua buku ini telah diangkat ke layar televisi dan mencatat sukses pula. Oprah Winfrey bahkan memproduseri versi film dari "Tuesday WIth Morrie" pada Bulan Desember 1999, dengan bintang Hank Azaria dan Jack Lemmon, yang berperan sebagai sang professor yang sekarat. Film ini dianugerahi 4 piala Emmy Awards, termasuk film TV terbaik, sutradara, aktor utama dan aktor pembantu terbaik.

Di tahun 2006, Albom datang dengan novel keduanya, "For One MOre Day", yang merupakan bentuk penghargaannya terhadap keluarganya terutama untuk ibunya yang sangat disayanginya. Seperti dua karya sebelumnya, Albom yang disebut para pe-review dunia sebagai penulis dengan karya yang sangat kuat kembali menyemarakkan kazanah perbukuan dengan karya terbarunya ini.

For ONe More Day pada dasarnya adalah cerita tentang seorang pria yang diberikan kesempatan untuk menghabiskan 1 hari lagi bersama ibunya, yang telah meninggal 8 tahun sebelumnya. Cerita ini adalah tentang anak yang mengabaikan ibunya selama hidupnya dan kemudian menyesalinya ketika ibunya meninggal.

Si anak, Charley Benetto, adalah anak dari Leonardo dan Pauline Benetto. Leonardo, atau yang dikenal dengan nama Len, ayah Charley, adalah keturunan Italia yang memiliki toko yang menjual minuman keras. Ia sangat menggandrungi baseball dan mewariskan kegilaannya tersebut kepada Charley. Charley, atau Chick diajari menangkap bola sebelum ia bisa berjalan. Dan ayahnya bahkan menghadiahinya tongkat pemukul baseball sebelum Chick diperbolehkan memegang pisau. Ayahnya menaruh harapan yang besar bahwa Chick satu saat dapat mengharumkan namanya dengan bergabung pada salah satu tim baseball besar.

Ibu Chick, Pauline, atau yang sering dipanggil Posey, sebaliknya tidak terlalu menyukai baseball. Lahir dari keluarga miskin, wanita berdarah Perancis ini lebih mementingkan pendidikan di atas segala-galanya. Ia menganggap pendidikan sebagai satu-satunya cara untuk dapat mengangkat derajat hidup seseorang. Itu sebabnya Posey mengambil sekolah malam dan sekolah keperawatan setelahnya.

Len dan Posey ternyata tidak hanya berbeda pandangan dalam hal pendidikan, tetapi juga dalam banyak hal lainnya, mulai dari hal yang sepele seperti pilihan makanan hingga yang rumit seperti masalah bisnis suaminya. Kehidupan pernikahan mereka akhirnya menghadapi ujian terberat yang berujung pada perceraian. Padahal ketika itu - tahun 1950-an - perceraian masih dianggap sebagai hal yang sangat tabu.

Perceraian ini menyebabkan Posey, sebagai pihak yang tetap bertahan di kampung halaman mereka, harus menerima perlakuan yang berbeda dari para tetangganya, terutama dari istri-istri yang merasa sebagai ancaman karena dapat memikat suami mereka dengan kemudaan dan kecantikannya. '...bagi wanita ia merupakan ancaman, bagi para pria ia merupakan peluang, dan buat anak-anak ia merupakan kejanggalan...' (hal 64).

Satu hal yang menghibur hati Posey adalah ketika Chick masuk ke perguruan tinggi lewat beasiswa baseball. Hal ini menyebabkan Chick mendapatkan keringanan sehingga hanya perlu membayar setengah dari seluruh biaya kuliahnya. Ibunya sangat bangga dengan status Chick sebagai mahasiswa dan berharap Chick dapat lulus dengan predikat sarjana sehingga hatinya hancur ketika mengetahui Chick lebih memilih berhenti dari kuliah dan meneruskan karier baseballnya.

Chick melakukan itu atas dasar saran ayahnya yang muncul kembali dalam kehidupannya setelah bertahun-tahun menghilang. Chick kembali menjadi 'daddy's boy' seperti yang selama ini ia lakukan ketika ia masih kecil. Memilih menjadi 'daddy's boy' dan mengabaikan kasih sayang dan perhatian ibunya karena mata dan hatinya tertuju pada usahanya mendapatkan kasih sayang ayahnya yang seperti ia ungkapkan, '...adalah yang paling sulit digapai dan yang paling mungkin menghilang dari dekapan...' (hal 34).

Pilihan yang ternyata membawa kehancuran bagi hidup Chick. Karier Chick ternyata tidak berkembang sebaik yang ayahnya dan ia pikirkan. Dan tidak hanya itu, keputusannya untuk mengikuti saran ayahnya untuk yang kedua kalinya membawa penyesalan yang mendalam pada diri Chick yang menyebabkan keterpurukan yang amat sangat sehingga Chick akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Chick pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di rumah ibunya di Peppervile Beach.

Tapi, dalam perjalanan menuju ke kampung halamanya, Chick mengalami kecelakaan hebat. Ia sadar dalam dunia antara hidup dan mati di mana ia akhirnya harus menghabiskan hidup 1 hari lagi dengan ibunya, yang meninggal 8 tahun sebelumnya.

Dari sanalah perjalanannya Chick untuk merenungi seluruh perbuatannya pada ibunya dimulai. Chick akhirnya menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal ibunya. Dari daftar "Times I Did Not Stand Up For My Mother" dan "Times My Mother Stood By Me" yang muncul berseling-seling sebagai judul di hampir setiap bab, Chick menyadari bagaimana besar pengorbanan yang sudah diberikan ibu Chick demi membesarkan dirinya dan adiknya dan betapa Chick berkali-kali menyakiti hati ibunya tanpa ia sadari.

Cerita ini bergerak maju-mundur antara kenangan masa kecil Chick dan masa dewasanya, dan mengambil tempat antara Chick dan ibunya yang sudah meninggal. Lewat perjalanan 1 hari bersama ibunya pula Chick menyadari betapa besar kasih sayang ibunya pada dirinya dan ia akhirnya mengetahui satu rahasia besar keluarganya yang selama ini disimpan ibunya. Dan bersamaan denga itu hati Chick pun dipulihkan.

Mitch Albom memberikan ending yang sangat menyentuh di akhir cerita ini. "Ending" cerita yang mengajak pembaca untuk merenungkan kembali arti kasih sayang orang tua pada kita. Seperti yang dikatakan Posey pada Chick, '...Children often forget how badly his/her parents wanted them sometimes. They think of themselves as burden instead of a wish granted...'.

Lewat Posey, Mitch Albom seolah mengingatkan kita bahwa kasaih sayang yang amat besar dari orang tua mampu membuat mereka melakukan apapun demi keselamatan anak-anaknya, bahkan jika itu berarti bahwa mereka harus menyembunyikan apa yang sedang mereka alami, dan bahkan pula jika itu berarti membuat mereka disalahpahami dan menyebabkan anak-anaknya melakukan hal-hal yang menyakiti hati orang tua tanpa disadari.

Foe One More Day mengandung nilai-nilai moral yang sangat baik, dan pada dasarnya merupakan cerita mengenai pengampunan dan berdamai dengan masa lalu. Cukup singkat, idenya pun sebenarnya sederhana, tidak bertele-tele, walaupun bukan merupakan tema baru karena pernah pula dibahas oleh Mitch dalam karyanya yang terdahulu, "Five People You Meet In Heaven". Tapi, jika kamu pencinta karya-karya Mitch sebelumnya, gak ada salahnya kok nambah satu lagi koleksinya dia yang ini.

So, happy reading, siap-siap tissue untuk yang berjiwa 'lelembut' (maksudnya sehalus sutra getoloh... he3x)

Buku lainnya oleh penulis - Mitch Albom »

Buku lainnya oleh penerbit - Gramedia Pustaka Utama »

Buku Sejenis Lainnya »