Titipan Kilat Penyihir

  • Cover Titipan Kilat Penyihir
  • Cover Titipan Kilat Penyihir
Rp 32.000
Hemat Rp 4.800
Rp 27.200
Judul
Titipan Kilat Penyihir  
No. ISBN
9792221654
Penulis
Tanggal terbit
Juni - 2006
Jumlah Halaman
225
Berat Buku
-
Jenis Cover
-
Dimensi(L x P)
135x200mm
Kategori
Fantasi
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
Stok Tidak Tersedia
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya

Karena dia penyihir, pada usia tiga belas tahun Kiki harus pindah ke kota lain. Dia harus meninggalkan Ibu, Ayah, serta kota kelahirannya. Kiki hanya akan ditemani Jiji si kucing hitam.

Ibu sudah melarangnya tinggal di kota besar, tapi Kiki kepalang suka pada kota Koriko, karena menara jamnya sangat tinggi dan letaknya dekat laut. Tapi astaga... warga kota Koriko tidak menyambut Kiki dengan hangat. Apakah Kiki bakal bisa bertahan di kota ini, padahal dia cuma bisa satu sihir: terbang dengan sapu?

REVIEW Titipan Kilat Penyihir

Oleh : jia, 08 Mei 2007-12:04:20

Rating
Judul : Titipan Kilat Penyihir
Judul Asli : Kiki's Delivery Service
Penulis : Eiko Kadono
Ilustrator : Akiko Hayashi
Jml Hal : 232 hal
Penerbit : GPU, 2006

Tahapan-tahapan untuk menjadi penyihir sungguhan adalah:
1. Pada usia 10 tahun, putri seorang penyihir memutuskan apakah dirinya akan menjadi penyihir, atau tidak.
2. Jika ia memutuskan untuk menjadi penyihir, maka ibunya akan menurunkan ilmu sihir yang dimilikinya kepada anaknya;
3. Menginjak usia 13 tahun, putri penyihir tersebut harus pergi ke suatu kota yang belum ada penyihirnya, hidup mandiri, dan menetap disana.

Kiki adalah gadis calon-penyihir berusia 13 tahun yang hidup di sebuah kota yang dikelilingi hutan lembah. Ibunya adalah penyihir yang ahli tanaman obat. Ia cemas sekali karena Kiki belum juga memutuskan kapan akan memulai magangnya sebagai penyihir. Kiki terlihat sangat santai. Padahal sebenarnya, Kiki sudah menyiapkan diri. Ia telah membuat sapu terbang baru, gaun baru (yang tidak hitam), dan semua peralatan yang serba baru.

(Sayangnya, semua peralatan baru itu tak bisa digunakan. Sesuai tradisi, penyihir harus mengenakan pakaian hitam. dan sapu baru itu, karena Kiki belum terbiasa menggunakannya, tidak boleh dipakai bepergian. Akhirnya Kiki meminta sebuah radio berwarna merah)

Lima malam lagi purnama datang. Kiki memberitahu ibu dan ayahnya bahwa ia akan pergi pada purnama kali itu. Pesan ibunya berkali-kali: tetap tersenyum ramah, pilih kota yang akan ditinggali dengan sebaik-baiknya, dan HINDARI kota besar!

Tapi Kiki yang ditemani kucing hitamnya Jiji, terkesima oleh kota besar di pinggir pantai. Seumur hidup tinggal di kota yang dikelilingi hutan, Kiki tak pernah menyentuh pantai. Meski ibunya melarang tinggal di kota besar, Kiki memutuskan akan tinggal di kota yang banyak gedung menjulang dan orang-orangnya lalu lalang dengan sibuk.

Penduduk Kokiro tidak menyambut Kiki dengan ramah. Tak seperti orang-orang di kota kelahirannya, penduduk Kokiro menganggap penyihir itu seseorang yang kejam dan jahat. Mungkin karena di tempat itu tak pernah tinggal penyihir manis seperti Kiki. Kiki sempat putus asa dan ingin pergi lagi dari situ.

Tetapi seorang pemilik Toko Roti menganggap Kiki dan sapu terbangnya sangatlah keren. Nyonya baik hati itu malah menyediakan ruangan tempat penyimpanan gandum untuk tempat tinggal Kiki. Selain itu, ia bahkan memberi Kiki ide tentang usaha apa yang sebaiknya ditekuni Kiki.

Keahlian sihir Kiki hanyalah mengendalikan sapu terbang. Ia tak bisa menyerap pelajaran tumbuh-tumbuhan dari ibunya. Akhirnya, Kiki membuka jasa titipan kilat. Ia mengantarkan barang apapun. Tugas pertamanya adalah mengantarkan dot bayi yang tertinggal di toko roti. Lambat laun, Kiki mulai diterima kehadirannya.

Kiki semakin betah, apalagi ada Tombo, anak lelaki yang sangat tertarik pada 'terbang'. Tetapi, meskipun begitu selalu saja ada masalah....

Berhasilkah Kiki dengan program hidup mandirinya?

***

Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1985. Agak aneh juga sih, membayangkan tradisi penyihir barat dengan setting jepang. Setahu saya, penyihir dengan sapu terbang sangatlah Eropa. Mungkin ga usah dibayangkan kali ya, tonton aja versi animasinya yang dibikin tahun 1989 sama Hayao Miyazaki.

Kalo liat websitenya sih, cerita ini udah diterjemahin dan diterbitin di berbagai negara.

Tapi, emang agak kesulitan juga sih mengawinkan cerita eropa di tanah Jepang. Seolah-olah itu tradisi mereka sendiri. Lonceng-lonceng, menara jam tinggi, kebiasaan minum teh, sangat Inggris bukan?

Hmm...cerita anak-anak yang asik, ringan renyah kayak kerupuk, cepet abis pula kayak kerupuk....