Silence - Hening

  • Cover Silence - Hening
  • Cover Silence - Hening
Rp 40.000
Hemat Rp 6.000
Rp 34.000
Judul
Silence - Hening  
No. ISBN
9789792240375
Penulis
Tanggal terbit
Desember - 2008
Jumlah Halaman
308
Berat Buku
-
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
135x200mm
Kategori
Diskon 30 persen
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
Gudang Penerbit
Stok Tidak Tersedia
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya

Berlatar belakang Jepang abad ke-17, periode Edo, Silence mengisahkan perjalanan nasib Sebastian Rodrigues, Yesuit Portugis yang dikirim ke Jepang untuk membantu Gereja setempat dan untuk mencari tahu keadaan mantan gurunya, Ferreira, yang dikabarkan telah murtad karena tidak tahan menanggung siksaan. Pada zaman ketika Kristianitas dilarang keras di Jepang, dan para penganutnya dikejar-kejar, dipaksa menjadi murtad, dan dibunuh, bukan hal mudah bagi Rodrigues untuk bertahan hidup, apalagi Tuhan yang selama ini dianggapnya sumber kasih seolah bungkam dan hening, tidak berbuat apa-apa. Pada akhirnya, pertanyaan yang utama adalah: sanggupkah manusia mempertahankan keyakinannya di tengah masa-masa penuh penganiayaan? Dan benarkah Tuhan hanya diam berpangku tangan melihat penderitaan?

REVIEW Silence - Hening

Oleh : adesuryati, 03 Agustus 2009-07:22:33

Rating
Watak Samurai Sejati
Keberanian. Kesetiaan. Kehormatan. Tiga kata itulah yang menarik bagi saya ketika saya membaca novel berjudul “Tokaido Inn” karangan Dorothy dan Thomas Hoobler beberapa waktu yang lalu. Adalah seorang anak cerdas bernama Seikei yang hidup di Jepang abak ke 18 zaman Tokugawa. Anak seorang saudagar berusia 14 tahun ini ingin menjadi seorang samurai. Namun sistim feudal pada masa itu tidak memungkinkan orang berpindah kasta.
Sebuah batu rubi yang hilang membawa rema penyuka syairini kepada pengalaman yang sangat berharga dalam hidupnya. Tak hanya itu, keinginannya sebagai seorang samurai harus diuji. Tentu saja diperlukan sebuah keberanian yang sangat tinggi untuk melacak dan menangkap si pencuri yang sangat lihai. Betapa tidak, si pencuri adalah seorang samurai. Sudah dapat dipastikan bagaimana kepandaiannya dalam berlaga. Belum lagi dalam novel ini diceritakan bahwa si pencuri sangat pintar mengelabui aparat hukum untuk menyembunyikan perbuatannya.
Dikisahkan dalam novel ini, untuk menangkap pencuri yang bernama Tomomi, Seikei malah harus hidup bersamanya, terlibat dalam kegiatan sehari-hari si pencuri. Selain itu, supaya tidak kehilangan jejak Tomomi, Seikei juga harus mengawasi laki-laki ini agar bisa memberi informasi pada Hakim Oka, aparat hukum pada masa itu yang terkenal pintar menguak misteri kejahatan. Betapa ngerinya kegiatan ini karna kapan saja nyawa Seikei bias terancam. Namun keinginan untuk menjadi samurai meski harus mati secara terhormat mengalahkan ketakutan Seikei yang masih belia.
Untuk mengikuti jejak Tomomi, Seikei yang harus terpisah sementara dengan ayahnya karena harus memata-matai Tomomi, rela berjalan kaki tanpa sandal hingga kakinya berdarah. Namun Seikei tidak peduli dengan hal itu dan mencari akal dengan menukar sandal itu. Akhirnya, seorang anak petani berhasil membetulkan sendalnya. Di benak Seikei, apapun yang terjadi, ia harus setia menjalankan misi hakim Oka untuk menangkap pencuri rubi yang seyognyanya harus dipersembahkan kepada shogun. Lagipula, Seikei sudah memutuskan untuk setia pada ajaran-ajaran samurai yang pernah ia baca sebelumnya dalam sebuah buku Dai Doji Yu Zan.
Meski sangat muda, kesetiaan terhadap hal-hal yang diyakini kebenarannya sungguh luar biasa. Hal yang boleh dibilang langka pada orang dewasa pada umumnya yang lebih memilih aman dan tidak mau terlibat masalah seperti ayah Seikei.
Sementara itu, nilai tentang kehormatan seorang samurai begitu mengalir dalam novel ini. Suatu malam, ketika Seikei tengah menguntit Tomomi yang sedang berpesta pora dengan para geisha, terjadilah sebuah pertarungan yang melibatkan dirinya dengan Tomomi. Pada saat itu, pedang kayu yang diberikan oleh hakim Oka sebagai pelengkap dalam mengemban misi Seikei direbut oleh Tomomi. Seikei sangat risau. Baginya, pedang itu bukan pedang biasa. Pedang itu adalah kehormatan baginya yang harus dipertahankan dengan cara apapun. Pedang itu tidak boleh lepas dari dirinya apapun alasannya. Oleh karena itu Seikei berniat merebut kembali pedang itu dengan segala daya upaya. Entah kenapa, Seikei merasa percaya diri dengan adanya pedang itu. Ia merasa harus bisa menyelesaikan misinya menangkap Tomomi. Pada akhirnya, Seikei berhasil membantu hakim Oka membuktikan bahwa Tomomi adalah pencuri rubi yang hilang itu. Tomomi pun harus mati di atas panggung setelah memerankan sebuah cerita yang tak lain sebagian besar merupakan cerita dari masa lalunya.
Dalam novel ini, dalam tokoh Seikei, Dorothy dan Thomas Hoobler sukses mengangkat norma-norma kehidupan yang luhur yang sudah sangat jarang terjadi di era yang serba canggih ini. Meski hanya sebuah novel, ceritanya mampu menggugah siapa saja untuk menelusuri kembali nilai-nilai yang kini mulai hilang entah kemana. Seikei dengan impiannya menjadi samurai memberi banyak pelajaran tentang kehidupan. Di tengah kepolosan dan keluguannya, saya kira Seikei bias mengingatkan masyarakat untuk kembali membangun nilai dan moral yang hampir musnah bak debu disiram hujan semalam ini.

Buku lainnya oleh penerbit - Gramedia Pustaka Utama »