Pendekar Sendang Drajat

  • Cover Pendekar Sendang Drajat
  • Cover Pendekar Sendang Drajat
Rp 37.000
Hemat Rp 14.800
Rp 22.200
Judul
Pendekar Sendang Drajat  
No. ISBN
9789793064758
Penulis
Penerbit
Tanggal terbit
Juni - 2009
Jumlah Halaman
236
Berat Buku
250 gr
Jenis Cover
Soft Cover
Dimensi(L x P)
-
Kategori
Promo Buku Murah
Bonus
-
Text Bahasa
Indonesia ··
Lokasi Stok
Stok Tersedia.
WHY CHOOSE US?
TERLENGKAP + DISCOUNTS
Nikmati koleksi buku terlengkap ditambah discount spesial.
FAST SHIPPING
Pesanan anda langsung diproses setelah pembayaran lunas. Dikirim melalui TIKI, JNE, POS, SICEPAT.
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA
Semua barang terjamin kualitasnya dan terpercaya oleh ratusan ribu pembeli sejak 2006.
LOWEST PRICE
Kami selalu memberikan harga terbaik, penawaran khusus seperti edisi tanda-tangan dan promo lainnya

PENDEKAR SENDANG DRAJAT

PESISIR UTARA MAJAPAHIT DI ABAD KE-16

VIDDY AD DAERY



Di usia senja kekuasaannya, Kerajaan Majapahit yang rapuh secara politik kehilangan kendali “hukum”. Tak ada lagi aturan, tak ada lagi moral, tak ada lagi tata susila. Kehidupan masyarakat kacau-balau: angkara murka merajalela, kejahatan merebak di mana-mana, perampok dan oknum penguasa semena-mena terhadap rakyat jelata.

Pada masa itulah berkelebatan seorang pendekar sakti mandraguna. Dalam pengembaraannya, sang pendekar kerap berikhtiar mengamankan kawasan pesisir utara dari sepak terjang kaum durjana. Namun, pendekar itu—yang merupakan cucu Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur—tak hanya mengumbar kekerasan terhadap penjahat, tapi juga memberi pencerahan dengan bahasa dakwah yang lembut dan damai.

Melanjutkan tradisi SH Mintardja, Pendekar Sendang Drajat adalah novel silat tentang wilayah paling utara Majapahit di tahun 1500-an—wilayah itu dulu disebut Pamotan-Tuban (kini bernama Lamongan), tempat benteng pasukan Majapahit paling berani. Inilah karya yang mengungkap satu fragmen riwayat kerajaan terbesar di Nusantara yang tak terkupas oleh buku-buku sejarah kerajaan.


* * * * *

“Saya adalah orang yang paling merasa senang ketika ruang yang selama ini diam sepeninggal pendekarnya itu mulai bergerak. Saya mencatat, setidaknya setelah Singgih Hadi Mintardja (SH Mintardja ) membesut Nogososro dan Sabuk Inten serta Api di Bukit Menoreh, lebih sepuluh tahun sepeninggalnya, ranah sastra silat langsung membeku. Arswendo Atmowiloto yang membesut Senopati Pamungkas entah mengapa tidak lagi menulis buku sejenis. Asmaraman Sukowati Khoo Ping Hoo, dalang cersil China, telah meninggal. Sementara Herman Pratikto, pembesut Bende Mataram, tidak ada kabar kelanjutannya.

Setelah saya melepas pentalogi Gajah Mada, ruang kosong itu bergolak lagi. Ada Hermawan Aksan yang bercerita tentang Dyah Pitaloka menggunakan cara pandang Sunda. Ada pula Remi Silado yang bertutur tentang Diponegoro. S. Tidjab pun turun gunung melalui Pelangi di Atas Glagah Wangi, demikian pula Gamal Komandoko lewat Ken Arok, Banjir Darah di Tumapel.

Berikut ini, sebuah kisah yang membuat saya agak terenyak. Majapahit di tahun 1500-an diolah dalam judul Pendekar Sendang Drajad oleh Viddy AD Daery, menempatkan kita lebih mudah belajar sejarah tanpa berniat belajar sejarah.”

—Langit Kresna Hariadi, penulis pentalogi Gajah Mada

_______________________________________

“Karya kreatif apa pun, selagi dihasilkan di atas landas yang jujur, wajar dan bermaruah, harus dihargai dan disokong oleh setiap khalayak pembaca. Apalagi kalau karya tersebut dilabelkan sebagai "novel sastera silat bertema Islam", yang agak asing bagi saya atau umumnya pembaca di Malaysia.

Pendekar Sendang Drajat (terus terang tokoh ini juga sangat asing bagi saya), saya percaya akan jadi karya hebat dan mendapat reaksi yang baik dari khalayak, kerana keluarbiasaan genre tersebut. Dari petikan yang saya baca, jelas gaya penceritaan novel ini sangat dramatik dan sinematik, memungkinkan ia mudah diadaptasi kepada medium visual, layar perak terutamanya, untuk menjangkau khalayak yang lebih besar. Semoga sukses!"

—Zakaria Arifin, Kuala Lumpur, Malaysia—sesepuh ASWARA [Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan, dulu bernama Akademi Seni Kebangsaan]

_______________________________________

"Perlawanan terhadap penjajah sering menjadi elemen penting dalam sastera pascakolonial sebagai suatu strategi mengangkat rasa yakin diri pribumi untuk menghadapi tantangan neokolonialisme mahupun neoimperialisme yang tidak pernah berhenti. Novel sebagai senjata budaya yang telah lama dimanfaatkan oleh kuasa kolonial tidak pernah hilang "taji"nya.

Saya membaca, novel ini juga tampaknya telah berfungsi dengan baik dan mantap bagi tujuan menghimpunkan kekuatan jati diri pribumi melalui bumbu sejarah dan fiksinya. Tiada yang lebih penting dalam sastera selain manfaatnya untuk membangunkan jiwa manusia agar sadar akan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi, dan inilah yang terkesan dalam novel ini."

—DR. Mohamad Saleeh Rahamad, kritikus sastra dan dosen Universiti Malaya, Kuala Lumpur

_______________________________________

“Sejarah dan sastera adalah dua wajah pada perkembangan kehidupan masyarakat. Keduanya merupakan narasi yang berusaha menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu peristiwa berlaku. Keduanya memusatkan manusia sebagai pelaku aktif.

Apabila sejarah menemukan dan ditemukan dengan sastera dalam kisah pendekar, degup jantung masyarakat menjadi bertambah intens dan deras, kerana suara perjuangan, kepahlawanan dan pengorbanan menjadi teras pengucapan dan ekspresi.

Minda dan jiwa bergetar dan disentak lewat pembacaan lantas menjadikan kita
manusia yang hidup tanpa menyerah kalah dalam apa jua pun.

Usaha Pak Viddy harus disanjung.”

—Isa Kamari, sastrawan Singapura


* * * * *

VIDDY AD DAERY alias Drs. Anuf Chafiddi—lahir di desa Laren, Lamongan, 28 Desember 1961—memulai dunia seninya sejak kanak-kanak. Karena ibunya melahirkan dan mengasuh adiknya, Viddy diasuh kakek-neneknya yang suka mendongeng menjelang tidur. Dongeng-dongeng itu membuat fantasi Viddy menjadi kaya. Fantasi itu kerap ia tuangkan menjadi lukisan-lukisan yang menghiasi dinding-dinding rumahnya yang terbuat dari kayu kuno, juga di lantai-lantai plester rumahnya. Seluruh bagian rumah Viddy pun habis oleh lukisannya, kecuali ruang tamu karena sudah ditegel keramik kuno dan sukar dilukisi.

Ketika masuk TK Aisyiyah Pangkatrejo, Parengan, Viddy cuma disuruh ibu-gurunya menggambar di seluruh bagian papan tulis yang dobel dan berulang-ulang, ia pun merasa cuma dijadikan “tamasya fantasi” gratis, dan karena itu ia memutuskan cuma sekolah 2 hari, lalu selanjutnya mengisi hari-harinya dengan keluyuran ke seluruh pelosok desa dan pedukuhan, bahkan sering bermalam di rumah teman-temannya.

Ketika menjelang Agustusan ayahnya biasa berlatih drama bersama teman-temannya—sesuatu yang marak di tahun-tahun pertengahan 1960-an karena hiruk-pikuk sebagai underbow partai-partai besar—Viddy suntuk hanya menjadi penonton latihan drama tersebut, juga pementasannya di hari perayaan Agustusan (HUT Kemerdekaan RI ). Tak puas hanya sebagai penonton, Viddy bergerak mengumpulkan teman-temannya dan melatih mereka bermain drama anak-anak, dan akhirnya diputuskan bersama untuk “pesta drama” di suatu malam purnama—malam yang paling indah bagi orang-orang desa yang kala itu belum mendapat penerangan listrik PLN. Pentas di halaman rumah Mbah Suratman itu akhirnya sukses besar, ditonton hampir seluruh warga desa. Kiranya, Viddy bisa disebut sebagai sutradara teater termuda di dunia.

Masuk usia SD (SDN Laren), Viddy mendapat hadiah sepeda onthel “laki-laki” yang kokoh dari ayahnya. Maka, mulailah ia memperluas wilayah jelajahnya. Di setiap hari libur, Viddy selalu bersepeda menjelajahi desa-desa hingga radius separuh kecamatan, mengagumi alam dan kehidupan, arsitektur rumah orang kaya desa di masa lalu, dan sering menghadiri pertunjukan wayang kulit di desa-desa tetangga, serta berburu komik dan mainan tradisional—termasuk wayang kertas—di pasar desanya maupun di pasar-pasar desa tetangga.

CUT TO: Masa mahasiswa yang dinilainya paling indah: baru di tingkat I Fisip Universitas Airlangga Surabaya, nama Viddy sudah melejit sebagai selebriti sastra. Puisinya, “Surabaya, Mari Berbicara Empat Mata”, meraih berbagai penghargaan tingkat lokal dan nasional, dipentaskan di berbagai panggung dan TVRI Surabaya. Setelah itu, ia banyak menulis puisi dan esai di Memorandum, Jawa Pos, Hai, Zaman, Semangat, Surabaya Post, Suara Indonesia, Merdeka, Mutiara, Kompas, Suara Pembaruan, dan banyak lagi. Perlu dicatat bahwa di zaman itu, di tahun 1980-an, belum banyak remaja yang kreatif menulis.

Pergaulannya dengan Teater Patriana Surabaya membawa Viddy menjadi tim penulis Film Seri ACI—produksi Pustekkom Dikbud—yang disiarkan TVRI pusat. Itu pula yang memberi jalan Viddy bekerja di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) sejak belum siaran—TPI mengudara pertama kali pada 23 Januari 1991. Mula-mula ia menjabat Redaktur Features Seni Serbaneka (1990-1991), lalu jadi Manajer/Penanggung Jawab Sinetron Komedi (1993), yang melahirkan sinetron-sinetron top rating, seperti Diamor Komeng—Jarwo Kwat, Lenong Bocah, Patrio Ngelaba, Kentrung Humor Lamongan, Dagelan Neo Mataram—Butet Kartarejasa cs, proyek percontohan sinetron murah Di Mana Cinta Kutitipkan—Rieke Diah Pitaloka, dan sebagainya.

Viddy menyumbang TPI kekayaan penghasilan iklan miliaran rupiah, rating-rating tinggi (top program), dan sinetron-sinetron bermutu yang menggondol lebih kurang 8 Piala Vidia dari FSI (Festival Sinetron Indonesia). Kala itu, stasiun televisi lain semacam RCTI, SCTV, Anteve, dan Indosiar belum banyak berperan, ”masih ayam sayur”. Tetapi ajaib, rezim manajemen justru mengganjar Viddy dengan tendangan silat “Ciaaaat…!!!”

Maka, kini Viddy pun menekuni penulisan cerita silat, selain jadi kolomnis tetap Surabaya Post, menggarap naskah acara TV via PH, jadi konsultan dan supervisor TV daerah, dan menerima undangan ceramah dari Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina. Ia juga berbisnis macam-macam, dibantu keluarganya yang kreatif, tabah, perkasa, dan luar biasa.

Bagi pembaca yang mencintai dunia silat dan sejarah masa lalu, Viddy mengajak membentuk “Komunitas Pendekar Budiman” via e-mail: pendekarbudiman1565@yahoo.co.id atau ke HP: 0856 1310 996

REVIEW Pendekar Sendang Drajat

Buku Sejenis Lainnya »