Display Buku
Jokowi Si Tukang Kayu
 
Rp 53.000
Hemat Rp 10.600
Rp 42.400

 
Apa itu Resensi?

Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku.
Resensi itu bukan sekadar menceritakan isi buku atau sinopsis.
Resensi adalah penilaian Anda secara kritis setelah membaca isi buku, apa kelebihannya atau kekurangannya.
Jadi sekali lagi, resensi tidak sama dengan sinopsis dan resensi tidak mengandung spoiler (membocorkan isi cerita yang penting).
Resensi dari ady-ahmed
 
  12 Agustus 2015 - 14:10:42

Isi Resensi :
Eksistensi Putra Bantaran Kali


Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk DKI Jakarta baru saja usai. Joko Widodo yang lebih familiar disapa Jokowi, pada akhirnya berhak menyandang jabatan Gubernur DKI Jakarta untuk kurun waktu 5 tahun kedepan. Mungkin masyarakat, khususnya warga Jakarta hanya mengenal sosok Jokowi melalui berita-berita di media cetak maupun media elektronik yang ramai setelah dirinya tercantum sebagai salah satu Cagub (Calon Gubernur). Masyarakat lebih mengenal Jokowi lewat simbol kampanye mereka, kotak-kotak. Namun melalui novel setebal 246 halaman ini, kita dapat mengenal lebih jauh sosok Jokowi. Novel ini berkisah tentang latar belakang kehidupan masa kecil Jokowi, masa-masa mengenyam dunia pendidikan hingga akhirnya beliau mencalonkan diri sebagai Walikota di Solo. Telah banyak lahir tokoh-tokoh sukses yang memiliki latar belakang kehidupan yang kurang beruntung dan Jokowi adalah salah satunya. Terlahir dari keluarga kurang mampu tidak menghalangi Jokowi untuk menggeliat sebagai entrepreneur muda maupun seorang pemimpin. Lahir sebagai anak tukang kayu yang tinggal di bantaran kali, tidak menyurutkan semangat beliau untuk menelurkan berbagai prestasi semasa mengenyam dunia pendidikan. Karena baginya, dengan meraih prestasi demi prestasi akan membuahkan sebuah kebanggaan bagi orangtua yang telah membanting tulang menyekolahkan Jokowi dan adik-adiknya. Kehidupan Jokowi kecil layaknya anak-anak lain yang tumbuh bersama di kawasan bantaran kali. Bedanya, Jokowi beserta adik-adiknya rajin membantu orangtua mereka, apa saja yang dapat mereka lakukan untuk membantu. Bahkan Jokowi pun bersedia jika diizinkan mblandong di hutan. Kesederhaan adalah ciri khas beliau. Bukan karena alasan pencitraan atau sekedar tampil beda, melainkan lingkunganlah yang menciptakan karakter tersebut. “Jika orang memahami apa itu ungkapan ojo dumeh (jangan mentang-mentang) akan tercipta sebuah harmoni kehidupan yang tenteram karena tidak akan ada lagi yang merasa adigang, adigung, adiguna (paling kuasa, paling besar, paling berjasa)”. (hal. 152) Jokowi muda sering bergaul dengan orang-orang tua, beliau sering mendapatkan nasihat-nasihat tentang kehidupan. Dan nasihat itu tidak pernah lepas dari benaknya selama menjalani hidup, termasuk ketika tinggal jauh dari orangtua untuk kuliah di luar kota. Jokowi muda punya cita-cita yang cukup mulia, yakni bagaimana ilmu yang dimiliki harus membawa dirinya kepada pengabdian untuk orang lain. Bukan hanya keluarga, bukan hanya teman, tetapi untuk masyarakat luas. Itulah mengapa pada akhirnya Jokowi tertarik untuk masuk ke dalam dunia politik sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat Solo. Ilmu yang dimilikinya saat itu adalah kerajinan kayu atau mebel. Maka Jokowi beserta teman-teman kampusnya membuat sebuah program untuk memajukan wilayah-wilayah kecil yang memiliki potensi alam yang memadai dan sumber daya manusia yang mumpuni. Oleh karena Jokowi sering membantu orangtuanya ke hutan, sampai-sampai ia dikenal dengan sebutan “Jokowi si tukang mblandong”. Namun ia tak pernah malu akan hal itu, bahkan ia mengembangkan seluruh ilmunya yang dipadu dengan ilmu wirausaha. Jokowi menjadi penerus bapaknya, tukang kayu atau pengusaha mebel. Pada masa inilah, kehidupan Jokowi sempat diterjang badai. Jokowi pernah menjadi korban penipuan pesanan mebel partai besar. Tetapi Jokowi tidak patah semangat, ia terus berusaha. Kepercayaan yang ada dijaga sambil membangkitkan kepercayaan yang baru hingga akhirnya usahanya menggeliat kembali. Cerita dalam novel ini juga diberikan bumbu-bumbu asmara layaknya kebanyakan novel yang telah beredar. Namun ada sisi unik dari sosok Jokowi dalam hal asmara sebagaimana dipaparkan dalam novel ini. Yang lebih unik lagi adalah asal mula nama Jokowi menjadi tenar. Ternyata bukan inisial, bukan pula singkatan dari nama beliau. Nama Jokowi sendiri tercipta berkat campur tangan orang bule berkebangsaan Perancis. Secara keseluruhan novel ini layak dibaca oleh segala kalangan, terutama generasi muda masa kini. Nilai-nilai semangat menjalani hidup, bangkit dikala terpuruk dan lain sebagainya akan menjadi asupan tersendiri bagi pembacanya. Judul : Jokowi Si Tukang Kayu Penulis : Gatot Kaca Suroso Penerbit : Ufuk Fiction Terbit : I, September 2012 Ketebalan : 256 halaman ISBN : 978-602-9346-95-4
Rating




 
 
[Semua Resensi Buku Ini]

[Kirim]